Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Kamis (11/6), menutup sesi dengan penurunan 0,28% ke level 5.886,03. Namun, di tengah koreksi pasar yang terjadi, investor asing justru terpantau aktif memborong saham-saham pilihan, terutama di sektor perbankan dan komoditas, demikian dilaporkan jabarpos.id. Fenomena ini menarik perhatian, mengingat secara agregat asing mencatatkan penjualan bersih yang cukup besar.
Sesi perdagangan tersebut diwarnai dominasi saham yang melemah, dengan 419 saham ditutup di zona merah, berbanding 265 saham yang berhasil menguat, dan 131 saham bergerak stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp22,27 triliun, melibatkan 33,65 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,37 juta kali transaksi. Angka-angka ini mengindikasikan tekanan jual yang cukup signifikan di pasar.
Secara keseluruhan, investor asing memang membukukan penjualan bersih jumbo sebesar Rp252,65 miliar di seluruh pasar, dengan penjualan bersih di pasar reguler mencapai Rp260,61 miliar. Namun, di balik angka tersebut, terdapat strategi selektif di mana asing justru melakukan pembelian bersih senilai Rp8,95 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Ini menunjukkan adanya pergeseran fokus pada aset-aset tertentu yang dianggap prospektif.
Also Read
Sektor perbankan menjadi primadona utama bagi aliran dana asing. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin daftar saham yang paling banyak dibeli, dengan nilai beli bersih mencapai Rp387,96 miliar. Tak hanya itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga tak luput dari incaran, mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp36,41 miliar oleh investor global. Minat kuat pada bank-bank besar ini mengindikasikan keyakinan terhadap fundamental ekonomi domestik dan potensi pemulihan.
Di luar sektor keuangan, investor asing juga melirik saham-saham yang memiliki keterkaitan erat dengan pemulihan ekonomi nasional dan siklus komoditas global. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menjadi salah satu target dengan pembelian bersih Rp97,18 miliar, diikuti oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp72,76 miliar. Keduanya merefleksikan optimisme terhadap konsumsi domestik dan infrastruktur digital.
Sektor pertambangan dan energi juga tak ketinggalan dari radar investor asing. Sejumlah emiten seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), hingga PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) masuk dalam keranjang belanja. Aksi ini menegaskan masih tingginya daya tarik saham berbasis sumber daya alam, seiring dengan pergerakan harga komoditas global yang tetap solid dan prospek permintaan yang stabil.
Fenomena ini menggarisbawahi strategi investor asing yang cenderung selektif dan berorientasi jangka panjang, mencari nilai di tengah volatilitas pasar. Meskipun IHSG terkoreksi, mereka melihat peluang di sektor-sektor yang diyakini akan menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi dan mendapatkan keuntungan dari tren harga komoditas global yang positif.






