Rupiah Terpuruk Tapi Ada Harapan

Author Image

Endang Wulansari

7 November 2026, 06:31 WIB

Jabarpos.id – Kondisi ekonomi nasional tengah menghadapi ujian berat seiring dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sepanjang tahun ini, mata uang Garuda tercatat telah mengalami pelemahan yang cukup signifikan, yakni mencapai angka 8,45 persen. Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (6/11/2026), rupiah kini berada di level Rp18.077 per dolar AS, sebuah posisi yang cukup mengkhawatirkan bagi stabilitas moneter domestik.

Meski tekanan terhadap mata uang nasional terlihat kian nyata, bukan berarti tidak ada titik terang di tengah badai ekonomi ini. Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan catatan optimis terkait dinamika pasar keuangan Indonesia. Ia mengungkapkan adanya sinyal positif berupa masuknya arus modal asing ke dalam pasar obligasi Indonesia selama bulan Oktober 2026.

Rupiah Terpuruk Tapi Ada Harapan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Irman, pasar obligasi tanah air berhasil mencatatkan aliran modal masuk (inflow) sebesar US$500 juta pada periode tersebut. Fenomena ini menjadi angin segar bagi stabilitas pasar keuangan dalam negeri, mengingat aliran dana asing ke instrumen surat utang seringkali menjadi penopang kekuatan rupiah di tengah ketidakpastian global.

Selain faktor aliran modal, terdapat potensi perbaikan dari sektor energi global yang dapat memberikan dampak tidak langsung bagi ekonomi Indonesia. Irman melihat adanya peluang meredanya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia yang berpotensi menormalkan rantai pasok minyak global. Jika konflik internasional mengalami deeskalasi, negara-negara anggota OPEC+ diprediksi akan meningkatkan produksi mereka. Kondisi ini dapat memicu terjadinya kelebihan pasokan (oversupply) di pasar minyak dunia, yang pada akhirnya akan menekan harga minyak mentah ke level yang lebih rendah.

Namun, optimisme ini harus dibarengi dengan sikap waspada. Penurunan harga minyak mentah tidak secara otomatis akan menurunkan angka inflasi konsumen dalam waktu singkat. Hal ini dikarenakan produk turunan minyak, seperti bahan bakar diesel, masih terganjal oleh berbagai kendala teknis mulai dari masalah distribusi, logistik, hingga keterbatasan kapasitas kilang pengolahan. Akibatnya, penurunan inflasi global diprediksi akan berjalan secara perlahan dan bertahap.

Kondisi ini juga berdampak pada kebijakan moneter global. Karena inflasi yang turun secara lambat, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan belum memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk segera memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Bagi Indonesia, tantangan yang dihadapi cukup kompleks. Kombinasi antara harga energi yang masih relatif tinggi, suku bunga AS yang tertahan di level atas, defisit transaksi berjalan, hingga risiko keluarnya modal asing menjadi variabel yang harus diantisipasi dengan cermat. Irman Faiz memproyeksikan bahwa pada akhir tahun 2026, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp18.032 per dolar AS. Meskipun ada sedikit perbaikan, tekanan eksternal seperti imbal hasil US Treasury yang tinggi dan ekspektasi inflasi global diprediksi masih akan membayangi perjalanan mata uang Garuda.

Related Post