jabarpos.id – Bank Indonesia (BI) terus berupaya keras menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global. Berbagai langkah intervensi dilakukan secara intensif untuk memastikan Rupiah tidak terombang-ambing terlalu jauh dari fundamentalnya.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengungkapkan bahwa intervensi dilakukan di berbagai pasar, baik spot maupun forward, di dalam dan luar negeri. Tujuannya, bukan hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga mengendalikan volatilitas Rupiah.

Selain intervensi, BI juga mengoptimalkan mekanisme Devisa Hasil Ekspor (DHE). Dengan memberikan insentif bagi eksportir untuk mengkonversi devisa ke Rupiah, pasokan valas diharapkan meningkat dan menstabilkan nilai tukar.
Upaya keras BI ini tercermin dari penurunan cadangan devisa (cadev) pada akhir September 2025 menjadi US$148,7 miliar, lebih rendah dari US$150,7 miliar pada Agustus 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui bahwa aliran modal asing yang keluar dari Indonesia memaksa BI untuk terus menggunakan cadev sebagai alat stabilisasi.
Perry menjelaskan bahwa sejak September hingga 20 Oktober 2025, terjadi net outflow investasi portofolio sebesar US$5,26 miliar. Kondisi ini memaksa BI melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas Rupiah. Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan BI dalam menjaga nilai tukar Rupiah di tengah tekanan global.





