Kekuatan Tersembunyi Bursa RI Terkuak

Author Image

Endang Wulansari

16 Juli 2026, 04:04 WIB

Jakarta – Sebuah kekuatan finansial domestik yang masif terungkap menjadi penopang utama fundamental pasar modal Indonesia. Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, dalam laporannya yang dikutip oleh jabarpos.id, menyebutkan adanya pengelola dana triliunan rupiah yang siap menjadi benteng pertahanan bursa saham tanah air.

Misbakhun merinci, entitas-entitas pengelola dana raksasa ini termasuk BPJS Ketenagakerjaan, yang aset kelolaannya (asset under management/AUM) diperkirakan mencapai Rp 890 triliun hingga menembus angka Rp 1.000 triliun pada tahun ini. Tak hanya itu, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) juga memiliki dana kelolaan yang signifikan, mendekati Rp 200 triliun.

Kekuatan Tersembunyi Bursa RI Terkuak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Selain dua institusi tersebut, Misbakhun juga menyoroti keberadaan dana pensiun lain seperti ASABRI dan TASPEN yang turut menyumbang kekuatan finansial domestik. "Kita masih punya dana pensiun lain, ASABRI, TASPEN," ungkap Misbakhun saat berbicara dalam acara Investment Forum 2026 CNBC Indonesia, yang diselenggarakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Rabu (15/7/2026).

Politisi dari Fraksi Golkar ini menekankan bahwa potensi besar dari pengelola dana domestik ini hanya perlu diorkestrasi secara tepat oleh otoritas bursa. Tujuannya adalah untuk menjadi perisai saat terjadi gejolak pasar, khususnya ketika investor asing melakukan aksi ambil untung (profit taking) yang berujung pada arus keluar modal (capital outflow) besar-besaran.

"Jadi sebenarnya potensi untuk upaya mengganti dana asing, capital outflow itu bisa kita lakukan, tinggal bagaimana orkestrasi kebijakannya," tegas Misbakhun, menggarisbawahi pentingnya strategi kebijakan yang matang.

Guna memaksimalkan peran pengelola dana jumbo ini, Misbakhun menyarankan agar pemerintah dan DPR mempertimbangkan relaksasi regulasi. Salah satu contohnya adalah dengan meninjau ulang pembatasan investasi di pasar modal yang saat ini berkisar 6%.

Ia berpendapat, relaksasi tersebut akan memungkinkan para pengelola dana untuk memperkuat portofolio investasi mereka. "Investasi mana yang bisa memberikan return yang kuat selain di pasar modal, selain SRBI dan SBN?" ujarnya, menyoroti daya tarik pasar modal sebagai instrumen investasi dengan potensi imbal hasil tinggi.

Related Post