Jakarta – Kisah inspiratif datang dari dunia teknologi, di mana seorang pengusaha muda asal Tiongkok, Wang Xingxing, berhasil mengukir namanya di jajaran miliarder global berkat bisnis robot humanoid. Kekayaannya kini mencapai angka fantastis, US$16 miliar atau setara Rp282,3 triliun, menurut laporan yang diterima jabarpos.id.
Wang, yang baru berusia 36 tahun, adalah CEO Unitree Robotics, sebuah perusahaan yang dikenal luas memproduksi robot humanoid canggih. Lonjakan kekayaannya terjadi sangat cepat. Pada awal Agustus lalu, Forbes mencatat harta Wang masih di kisaran US$2,4 miliar. Namun, hanya dalam beberapa pekan, nilai saham Unitree Robotics meroket hingga 629%, mengubah statusnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Kenaikan dramatis ini turut mendongkrak kapitalisasi pasar Unitree Robotics hingga 445 miliar yuan atau sekitar Rp1.171 triliun, seperti yang diungkap oleh South China Morning Post. Direktur pelaksana Chanson & Co, Shen Meng, menjelaskan bahwa antusiasme pasar ini sejalan dengan dukungan kuat pemerintah Tiongkok terhadap sektor industri maju, termasuk robotika dan semikonduktor. "Peningkatan sebesar 629% ini sesuai dengan ekspektasi," kata Shen.
Also Read
Saat ini, robot-robot buatan Unitree masih banyak dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, pengajaran, dan pertunjukan. Prospektus perusahaan juga mengonfirmasi bahwa dalam jangka pendek, fokus utama adalah pengembangan dan riset. Namun, potensi komersialisasi massal sedang dipersiapkan.
Untuk jangka panjang, Unitree Robotics membayangkan robot berbentuk manusia ini akan menjadi asisten penting di pabrik-pabrik dan rumah tangga. Visi ini didukung oleh proyeksi penurunan biaya perangkat keras dan kemajuan pesat dalam teknologi kecerdasan buatan (AI).
Pasar robot humanoid memang menunjukkan potensi yang luar biasa. BofA Global Research memperkirakan, pengiriman robot humanoid secara global akan mencapai 1,2 juta unit pada tahun 2030, melonjak drastis dari hanya 20 ribu unit pada tahun lalu. Bahkan, nilai pasar robot humanoid diprediksi akan menyentuh US$37 miliar atau sekitar Rp653 triliun hanya dalam lima tahun ke depan.






