Dolar AS Dekati Angka Krusial Rupiah Terjungkal

Author Image

Endang Wulansari

12 September 2026, 10:04 WIB

Laporan jabarpos.id dari Jakarta menunjukkan, nilai tukar rupiah harus mengakhiri sesi perdagangan terakhir pekan ini dengan kondisi yang kurang menguntungkan, melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tak mampu membendung laju penguatan greenback yang didorong berbagai sentimen global.

Menurut data dari Refinitiv, pergerakan rupiah cukup dinamis sepanjang hari. Setelah dibuka dengan pelemahan 0,23% di level Rp17.570 per dolar AS, rupiah sempat tertekan lebih dalam hingga menyentuh titik terlemahnya di Rp17.620 per dolar AS. Namun, tekanan tersebut sedikit mereda menjelang penutupan, dengan rupiah berhasil menguat 35 poin dari posisi terendah, mengakhiri perdagangan di Rp17.585 per dolar AS, atau terdepresiasi sebesar 0,31%.

Dolar AS Dekati Angka Krusial Rupiah Terjungkal
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meskipun demikian, jika dilihat secara keseluruhan dalam sepekan, rupiah masih mencatatkan kinerja positif. Mata uang domestik ini berhasil menguat sekitar 0,26% dibandingkan posisi penutupan Jumat pekan lalu yang berada di Rp17.630 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,05% ke level 99,096 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan dolar AS ini menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah.

Dolar AS mendapatkan momentum penguatan di pasar global, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Situasi ini membuat greenback bertahan di sekitar level tertinggi dalam seminggu terakhir. Selain itu, data ekonomi AS juga turut menyokong kekuatan dolar. Indeks harga produsen (PPI) AS tercatat naik 0,4% pada Agustus, sebuah indikasi peningkatan tekanan harga di tingkat produsen. Kenaikan harga energi disebut-sebut sebagai salah satu faktor pendorong utama di balik lonjakan PPI tersebut.

Arus dana menuju aset aman (safe-haven) juga menjadi penopang dolar di tengah ketidakpastian global. Harga minyak mentah Brent, misalnya, melanjutkan tren kenaikan selama enam hari berturut-turut, melonjak 1,2% di perdagangan Asia ke US$108,96 per barel setelah menembus level US$100 di awal pekan.

Tingginya harga energi ini memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan depan kini mencapai 71,3%, naik signifikan dari 61,2% pada perdagangan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi ini juga berdampak pada imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin, mencapai 4,965%, semakin mendekati ambang batas 5%. Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini secara langsung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, sekaligus memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kini, perhatian pasar global tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data ini dianggap sebagai salah satu indikator ekonomi krusial terakhir sebelum The Fed menggelar pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 15-16 September mendatang.

Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat semakin memperbesar kemungkinan The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya akan memperkuat dolar AS dan menambah beban bagi rupiah. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah, hal itu dapat meredakan ekspektasi pengetatan moneter dan memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.

Related Post