Ancaman Downgrade MSCI Hantui Bursa RI

Author Image

Endang Wulansari

7 November 2026, 08:31 WIB

Jabarpos.id – Gejolak di pasar modal Indonesia kini tengah berada dalam bayang-bayang ketidakpastian yang cukup serius. Isu mengenai potensi penurunan kelas pasar saham Indonesia oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Jika skenario penurunan status dari emerging market menjadi standalone market benar-benar terjadi pada kuartal kedua tahun 2027, pasar keuangan tanah air diprediksi akan menghadapi gelombang aksi jual saham yang masif oleh investor asing.

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memberikan peringatan keras mengenai potensi aliran modal keluar (outflow) yang bisa mencapai angka fantastis. Menurut analisisnya, jika penurunan kelas ini terealisasi, arus modal keluar diperkirakan akan berkisar antara US$2 miliar hingga US$6 miliar. Jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS, maka nilai kerugian modal tersebut bisa mencapai Rp36 triliun hingga Rp108 triliun.

Ancaman Downgrade MSCI Hantui Bursa RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Irman menjelaskan bahwa tekanan jual ini tidak hanya datang dari satu kelompok saja. Ada dua jenis investor yang diprediksi akan melakukan langkah serupa. Pertama adalah kelompok passive fund, yakni investor yang menggunakan indeks MSCI sebagai standar utama dalam pengambilan keputusan investasi mereka. Kedua adalah kelompok active fund, yaitu investor mandiri yang tidak terikat pada indeks tertentu namun tetap akan merespons perubahan status pasar Indonesia.

"Kami melihat potensi keluarnya modal dari pasar saham ini berkisar antara US$2 hingga US$6 miliar, yang terdiri dari gabungan antara active fund dan passive fund," ujar Irman dalam sesi diskusi bersama media di Sabang, Kamis (5/11/2026). Ia menambahkan bahwa dampak dari penurunan status ini bersifat lagging, yang artinya efek nyata dari aksi jual tersebut baru akan terasa secara signifikan menjelang kuartal kedua tahun 2027.

Meski fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih dalam kondisi yang solid, Irman meyakini bahwa investor asing tidak akan sembarangan menambah porsi kepemilikan saham mereka dalam waktu dekat. Para investor global cenderung akan menerapkan strategi wait and see. Mereka lebih memilih untuk menunggu hingga harga saham-saham di Indonesia menyentuh titik terendah sebelum memutuskan untuk masuk kembali.

Namun, ada satu hal yang memberikan secercah optimisme bagi stabilitas mata uang nasional. Irman menekankan bahwa meskipun pasar saham mengalami tekanan, hal tersebut tidak secara otomatis akan meruntuhkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan studi yang ia lakukan, sensitivitas rupiah terhadap arus keluar modal di pasar saham tergolong kecil. Setiap aliran keluar sebesar US$100 juta di pasar saham hanya berdampak pada depresiasi rupiah sekitar Rp11 hingga Rp12 saja.

Selain itu, ada kemungkinan terjadinya rotasi aset. Alih-alih membawa uang mereka keluar dari Indonesia, investor mungkin hanya akan memindahkan dana mereka dari saham ke instrumen keuangan lain yang memiliki risiko lebih rendah di dalam negeri. Dengan demikian, dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional diharapkan tetap terkendali.

Related Post