Pasar keuangan global kini tengah menanti dengan cemas potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Prediksi ini mencuat seiring dengan data ekonomi AS yang masih menunjukkan kekuatan, terutama tingginya angka farm-payroll, serta potensi inflasi yang kembali memanas di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Menurut laporan jabarpos.id, kondisi ini diprediksi akan menciptakan dilema serius bagi kebijakan Bank Indonesia (BI), terutama terkait stabilitas Rupiah dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, mengungkapkan bahwa arah kebijakan The Fed hingga kini masih diselimuti ketidakpastian. Ia menyoroti bahwa era kepemimpinan bank sentral AS belum memberikan "panduan" yang jelas mengenai langkah ke depan. Meskipun demikian, Dimas secara spesifik melihat adanya peningkatan potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada September 2026, dengan probabilitas mencapai 60%.
Jika skenario kenaikan suku bunga The Fed benar-benar terjadi, Bank Indonesia akan menghadapi situasi yang cukup pelik. Di satu sisi, BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak tertekan oleh arus modal keluar yang mencari imbal hasil lebih tinggi di AS. Kenaikan suku bunga The Fed cenderung membuat dolar AS lebih menarik, yang bisa memicu pelemahan Rupiah.
Also Read
Di sisi lain, BI juga memiliki mandat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Jika BI terpaksa menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) untuk menahan pelemahan Rupiah, langkah ini berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga domestik bisa membuat biaya pinjaman lebih mahal, mengurangi investasi, dan menekan konsumsi masyarakat.
Oleh karena itu, pergerakan kebijakan moneter The Fed akan menjadi sorotan utama bagi pasar keuangan global dan domestik, dengan dampaknya yang signifikan terhadap arah kebijakan BI dan prospek Rupiah di masa mendatang. Pembahasan mendalam mengenai bagaimana pasar melihat arah kebijakan The Fed, serta efeknya terhadap BI dan Rupiah, telah diulas dalam dialog Shania Alatas dengan Investment Director Sucor Asset Management, Dimas Yusuf, di Squawk Box CNBC Indonesia.






