Jabarpos.id – Pemerintah Indonesia tengah berupaya membangun ekosistem bullion atau logam mulia yang kuat, terinspirasi dari kesuksesan Singapura dan China. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan harga emas yang diprediksi terus berlanjut hingga tahun 2026, bahkan menembus level USD 4.500 per troy ons.
Lonjakan harga emas ini didorong oleh ketidakpastian global, yang membuat emas menjadi instrumen investasi safe haven yang diminati. Untuk menghadapi kondisi ini, pemerintah mendorong pembentukan bullion bank atau bank emas. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dengan memperkuat cadangan devisa, mendorong hilirisasi industri emas, dan menyediakan instrumen lindung nilai bagi masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, bullion bank diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional melalui industri hilirisasi. Industri ini berpotensi menggerakkan ekonomi, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan menopang sektor jasa keuangan Indonesia. Kajian menunjukkan bahwa ekosistem bullion dapat berkontribusi terhadap PDB hingga Rp 270 Triliun, yang pada akhirnya dapat menopang target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.
Dalam mengembangkan bullion bank, pemerintah banyak belajar dari negara-negara yang telah berhasil, seperti Singapura, China, Turki, dan Inggris. Upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan ekosistem bullion ini menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama dalam pasar emas global.




