Optimisme melambung dari Bank Indonesia terkait masa depan nilai tukar rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam sebuah pernyataan yang dilansir jabarpos.id, baru-baru ini membeberkan lima alasan fundamental mengapa mata uang Garuda diproyeksikan menguat signifikan, bahkan menembus kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada tahun 2027. Prediksi ini sejalan dengan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Tahun Anggaran 2027.
Perry Warjiyo menyampaikan keyakinan ini dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI. Menurutnya, ada beberapa pilar utama yang akan menopang penguatan rupiah dalam beberapa tahun ke depan.
Faktor pertama yang menjadi landasan keyakinan BI adalah prospek perbaikan ekonomi global. Perry menjelaskan bahwa meredanya gejolak dan persepsi risiko investasi di kancah internasional akan mendorong masuknya portofolio investasi, menjaga neraca pembayaran tetap sehat, dan menekan defisit transaksi berjalan. Kondisi ini, ditambah daya tarik imbal hasil investasi di Indonesia serta perkembangan pasar keuangan domestik, akan menjadi magnet bagi aliran modal.
Also Read
Kedua, penguatan rupiah akan ditopang oleh kebijakan strategis pemerintah. Perry menyoroti implementasi aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) dan skema ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danatara Sumberdaya Indonesia (DSI). Langkah-langkah ini diyakini tidak hanya akan mendongkrak penerimaan negara dan membiayai pertumbuhan ekonomi yang ambisius, tetapi juga secara signifikan memperkuat cadangan devisa negara.
Pilar ketiga adalah komitmen Bank Indonesia untuk memperkuat seluruh instrumen guna menjaga stabilitas dan nilai tukar rupiah. Ini mencakup upaya memastikan kecukupan devisa, eksekusi transaksi forward baik di pasar domestik maupun internasional, serta perluasan instrumen dan transaksi di pasar valuta asing dalam negeri. BI juga akan memastikan ketersediaan valuta asing yang memadai di perbankan dan cadangan devisa yang kuat.
Pilar keempat adalah sinergi erat antara BI dan pemerintah. Perry menekankan koordinasi untuk menjaga daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), yang krusial untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan lingkungan investasi yang kondusif bagi investor global.
Terakhir, Perry menegaskan bahwa BI akan terus mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi melalui kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif. Ia menggarisbawahi koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan, seperti yang disampaikan pada awal Juni lalu, dalam upaya memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan daya tarik imbal hasil investasi, dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang serta perbankan. Ini semua adalah bagian dari strategi komprehensif untuk mendorong ekonomi Indonesia menuju kinerja yang lebih baik dan rupiah yang perkasa.






