Jakarta – Pusat perbelanjaan di Indonesia kini menghadapi tekanan ganda yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, mereka harus bersaing dengan maraknya produk impor ilegal dan pakaian bekas yang membanjiri pasar. Di sisi lain, biaya operasional yang terus melonjak semakin mencekik. Situasi pelik ini diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, dalam wawancaranya dengan jabarpos.id baru-baru ini.
Alphonzus menjelaskan, fenomena menjamurnya barang murah, termasuk pakaian bekas, tidak lepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Daya beli yang melemah, terutama di kalangan menengah ke bawah, mendorong konsumen untuk mencari produk dengan harga serendah mungkin. "Itulah yang terjadi kenapa impor ilegal semakin marak, karena kan murah akibat ilegal gitu kan impornya? Baju bekas, baju bekas kan marak begitu ya kan, karena mereka tetap perlu baju," ujarnya, menggambarkan realitas yang dihadapi.
Kondisi ini menciptakan tantangan berat bagi pelaku usaha ritel yang sah. Mereka harus berjuang keras untuk tetap relevan di tengah gempuran produk-produk ilegal yang menawarkan harga jauh di bawah standar, seringkali tanpa mematuhi regulasi dan pajak yang berlaku. Persaingan harga yang tidak sehat ini membuat gerai-gerai di mal kesulitan menarik minat konsumen.
Also Read
Namun, masalah pusat perbelanjaan tidak berhenti di situ. Beban operasional juga mengalami kenaikan drastis. Alphonzus menyebut, lonjakan biaya yang ditanggung pengelola mal saat ini sudah melampaui 30%, sebuah angka yang sangat memberatkan.
Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor utama. Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang terus meningkat berdampak langsung pada biaya logistik dan transportasi. Selain itu, tarif energi gas, baik Liquefied Natural Gas (LNG) maupun Compressed Natural Gas (CNG), juga terus merangkak naik setiap bulan karena adanya komponen harga dalam dolar Amerika Serikat. Tak ketinggalan, sejumlah pemerintah daerah juga turut menaikkan penerimaan dari pajak dan retribusi sebagai upaya mengatasi keterbatasan anggaran daerah mereka, yang pada akhirnya membebani pengusaha.
Sektor makanan dan minuman (F&B) bahkan merasakan dampak yang lebih parah. Alphonzus memperkirakan, kenaikan biaya di sektor ini bisa mencapai lebih dari 50% jika tren kenaikan biaya gas terus berlanjut tanpa kendali.
Di tengah periode low season yang lebih panjang dari biasanya, pengelola mal kesulitan untuk mendorong penjualan. Meskipun demikian, para pelaku usaha masih berupaya keras menahan kenaikan harga jual agar tidak semakin membebani konsumen yang daya belinya sudah tertekan. Situasi ini melukiskan gambaran suram bagi masa depan industri pusat perbelanjaan di Tanah Air, yang kini harus berjuang di antara dua badai ekonomi yang tak berkesudahan.





