Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kini melanda sektor perbankan global, didorong oleh tekanan ekonomi dan adopsi masif teknologi kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini menjadi sorotan utama setelah salah satu raksasa keuangan dunia mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran. Menurut laporan yang dihimpun jabarpos.id, efisiensi operasional melalui AI disebut sebagai kunci untuk menghadapi tantangan industri keuangan yang semakin ketat.
Standard Chartered, bank multinasional yang berbasis di London, menjadi contoh nyata dari tren ini. Mereka berencana merampingkan lebih dari 7.000 posisi karyawan dalam empat tahun mendatang. Langkah ini, yang setara dengan sekitar 15% dari fungsi korporasi, akan menyasar pegawai yang dianggap memiliki ‘nilai sumber daya manusia rendah’ dan digantikan oleh sistem berbasis AI.
Keputusan strategis ini diambil Standard Chartered demi meningkatkan profitabilitas dan daya saing di tengah ketatnya lanskap keuangan global. CEO Standard Chartered, Bill Winters, menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar upaya pemangkasan biaya. "Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang kami tanamkan," ungkap Winters, menekankan pergeseran fokus dari tenaga kerja konvensional ke investasi teknologi dan modal finansial.
Also Read
Dengan total sekitar 82.000 pegawai secara global, pengurangan tenaga kerja ini akan diimplementasikan melalui otomatisasi dan integrasi AI yang lebih dalam. Winters menambahkan bahwa meskipun demikian, sebagian karyawan akan diberikan kesempatan untuk pelatihan ulang atau ‘reskilling’ agar dapat beradaptasi dengan peran baru. Posisi yang paling rentan terdampak adalah di pusat operasional back-office bank, seperti di Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa, di mana AI akan menjadi motor utama transformasi sistem perbankan inti.
Fenomena PHK massal yang dipicu AI ini bukan hanya terjadi di Standard Chartered. Sebelumnya, Mizuho Financial Group, bank terkemuka dari Jepang, juga telah mengumumkan rencana untuk mengurangi hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade mendatang. Ini mengindikasikan bahwa industri perbankan global secara keseluruhan sedang berpacu untuk mengintegrasikan model AI terbaru, tidak hanya demi efisiensi tetapi juga untuk memperkuat pertahanan terhadap ancaman siber yang kian kompleks.
Menariknya, di balik restrukturisasi ini, Standard Chartered tetap mematok target pertumbuhan yang ambisius. Mereka menargetkan pengembalian ekuitas berwujud (ROTE) di atas 15% pada tahun 2028, dan meningkat hingga sekitar 18% pada 2030. Selain itu, target penghimpunan dana baru bersih sebesar US$200 miliar dipercepat menjadi tahun 2028, satu tahun lebih awal dari proyeksi sebelumnya. Bank ini akan lebih fokus pada segmen bisnis dengan margin keuntungan yang lebih tinggi, seperti nasabah ritel kelas atas dan institusi keuangan.
Namun, perjalanan menuju target tersebut tidak lepas dari bayang-bayang tantangan geopolitik. Standard Chartered, yang memiliki fokus kuat di Asia Pasifik dan Afrika, mengakui bahwa konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko signifikan. Pada kuartal pertama tahun ini saja, bank telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar US$190 juta sebagai antisipasi dampak konflik tersebut. Meski demikian, Winters menegaskan optimisme banknya. "Kami sangat tangguh," ujarnya, menanggapi pertanyaan mengenai kemampuan bank untuk mencapai target di tengah volatilitas pasar dan risiko geopolitik.






