Suku Bunga BI Terus Meroket Akankah Berhenti

Author Image

Endang Wulansari

19 Juni 2026, 08:05 WIB

Jakarta – Bank Indonesia (BI) secara agresif telah mengerek suku bunga acuannya, BI Rate, sebanyak 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026. Langkah ini, yang diulas jabarpos.id, merupakan respons proaktif untuk membentengi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pusaran ketidakpastian global yang kian intens.

Rangkaian pengetatan kebijakan moneter ini dimulai dengan kenaikan 50 bps pada bulan Mei. Kemudian, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan awal Juni, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, menjadikannya 5,50%. Puncaknya, pada RDG 17-18 Juni 2026, BI kembali menambah 25 bps, sehingga BI Rate kini bertengger di level 5,75%. Total kenaikan 100 bps ini menunjukkan keseriusan BI dalam meredam gejolak.

Suku Bunga BI Terus Meroket Akankah Berhenti
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Faisal Rahman, Ekonom Bank Mandiri, menyoroti bahwa keputusan BI untuk kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, membawa BI Rate ke 5,75% pada pertemuan 26 Juni, menyusul kenaikan serupa di awal bulan, sebenarnya tidak sepenuhnya mengejutkan. Meskipun Bank Mandiri sebelumnya telah mengantisipasi adanya ruang untuk pengetatan kebijakan lebih lanjut, kenaikan terbaru ini terjadi lebih cepat dari perkiraan awal mereka yang menargetkan awal kuartal ketiga tahun 2026.

"Menurut pandangan kami, kenaikan suku bunga ini mencerminkan langkah antisipasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko kenaikan premi risiko pada aset keuangan Indonesia," ujar Faisal. Ia menambahkan, hal ini krusial di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, terutama setelah sikap kebijakan Federal Reserve (Fed) yang lebih hawkish dari yang diperkirakan pada pertemuan FOMC 26 Juni.

Dari perspektif fundamental makroekonomi, ekonomi Indonesia memang masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Namun, Faisal menggarisbawahi bahwa kerentanan domestik juga tetap tinggi. Ini terutama disebabkan oleh potensi dampak tertunda dari lonjakan harga energi global dan depresiasi rupiah terhadap prospek inflasi Indonesia, posisi fiskal, dan neraca eksternal.

Faktor-faktor tersebut berpotensi memicu inflasi impor melalui kenaikan biaya input dan berkontribusi pada pelebaran defisit kembar, yakni defisit fiskal dan transaksi berjalan. Di sisi fiskal, penerimaan pemerintah yang lebih lemah dari perkiraan dapat membatasi fleksibilitas anggaran, terutama saat kewajiban pembayaran utang dan pengeluaran subsidi energi meningkat, di tengah ambisi pemerintah untuk mengejar agenda pertumbuhan ekspansif.

Sementara itu, sektor eksternal kemungkinan akan menghadapi tekanan yang lebih besar akibat impor yang lebih tinggi, khususnya untuk energi dan barang setengah jadi. Di sisi lain, ekspor mungkin tetap lesu di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian yang berkelanjutan. Akibatnya, defisit transaksi berjalan berpotensi melebar lebih jauh, menambah tekanan depresiasi pada rupiah.

"Tantangan-tantangan ini telah berkontribusi pada premi risiko yang lebih tinggi pada aset keuangan Indonesia dan tekanan depresiasi yang berkelanjutan pada rupiah," imbuh Faisal. Sentimen investor juga diperkirakan tetap waspada menjelang peristiwa-peristiwa penting, termasuk tinjauan klasifikasi pasar MSCI yang akan datang pada Juni 2026 dan penilaian peringkat kedaulatan S&P untuk Indonesia pada Juli 2026.

Dengan demikian, Faisal melihat bahwa lintasan suku bunga BI di masa depan sebagian besar akan bergantung pada bagaimana ketidakpastian global dan domestik berkembang. Periode ketidakpastian yang berkepanjangan dapat memicu premi risiko yang lebih tinggi pada aset keuangan Indonesia, yang berpotensi mendorong BI untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat, mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Sebaliknya, jika risiko eksternal dan domestik secara bertahap mereda dan kondisi pasar keuangan stabil, kebutuhan akan pengetatan kebijakan lebih lanjut dapat berkurang. Hal ini akan memberikan BI fleksibilitas yang lebih besar dalam menyesuaikan respons kebijakannya sejalan dengan perkembangan ekonomi fundamental.

"Karena kami memperkirakan tekanan ini akan secara bertahap mereda pada paruh kedua tahun 2026, untuk saat ini kami mempertahankan perkiraan dasar kami bahwa suku bunga BI akan tetap di 5,75% untuk sisa tahun 2026," tegas Faisal. Namun, ia tidak menutup kemungkinan bagi BI untuk menerapkan kenaikan suku bunga kebijakan lebih lanjut jika tekanan eksternal dan domestik berlanjut atau bahkan meningkat, demi menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan.

Related Post