Rute MRT Lebak Bulus Serpong Sengaja Disimpan Rapat

Author Image

Endang Wulansari

28 Juni 2026, 08:04 WIB

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengambil langkah tak biasa dengan merahasiakan detail rute perpanjangan MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Serpong, Tangerang Selatan. Keputusan ini, seperti dilaporkan jabarpos.id, bukan tanpa alasan kuat, yakni untuk membendung praktik spekulasi tanah oleh para calo yang berpotensi merugikan proyek strategis nasional ini.

Dudy menjelaskan, transparansi rute sebelum waktunya akan memicu lonjakan harga tanah di sekitar jalur yang direncanakan. Fenomena ini, menurutnya, hanya akan menguntungkan para makelar dan merugikan masyarakat luas serta membengkakkan biaya proyek. "Nanti tanah yang tadinya Rp 1 juta bisa jadi Rp 30 juta. Akhirnya yang dikorbankan masyarakat, yang diuntungkan cuma para makelar saja," tegasnya.

Rute MRT Lebak Bulus Serpong Sengaja Disimpan Rapat
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Proyek ambisius perpanjangan jalur MRT ini terus bergulir. Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) untuk rute interkoneksi tersebut sedang digarap dan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026. Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, mengonfirmasi bahwa studi ini dilakukan oleh pihak swasta, yakni Sinarmas, pengembang kawasan BSD, yang juga memiliki kepentingan dalam konektivitas transportasi.

Penentuan rute definitif, tegas Dudy, sepenuhnya menjadi domain investor yang akan membangun proyek. Mereka akan melakukan kajian mendalam untuk mencari jalur paling efisien dari sudut pandang ekonomis, mempertimbangkan potensi jumlah penumpang, dan efisiensi investasi. Spekulasi mengenai jalur yang akan melewati Pondok Aren atau Pondok Cabe memang beredar di media sosial, namun investor akan menyimpan informasi tersebut rapat-rapat demi menjaga stabilitas biaya investasi.

Dari kacamata pemerintah, Dudy menekankan bahwa fokus utama bukanlah pada rute spesifik, melainkan pada perluasan jangkauan layanan transportasi massal yang terintegrasi dengan kawasan penyangga Jakarta. "Kalau saya yang penting jangkauannya semakin jauh dan konektivitasnya lebih baik," ujarnya.

Tuhiyat menambahkan, rampungnya studi kelayakan bukan berarti konstruksi bisa langsung dimulai tahun depan. Masih ada serangkaian tahapan krusial yang harus dilalui, meliputi pembahasan kelembagaan, skema finansial, hingga penyusunan desain teknis yang mendetail sebelum proyek fisik dapat terealisasi.

Related Post