Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang mencapai 100 basis poin (Bps) dalam kurun waktu satu bulan terakhir telah memicu pergerakan signifikan di pasar keuangan. Menurut Presiden Direktur Recapital Asset Management, Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, fenomena ini mendorong arus dana investor untuk beralih ke instrumen-instrumen yang terkait dengan suku bunga, salah satunya adalah pasar uang. Informasi ini dihimpun oleh jabarpos.id dari wawancara eksklusif.
Bagi para Manajer Investasi (MI), kondisi ketidakpastian geopolitik global yang terus berubah dengan cepat menjadi faktor penentu dalam merumuskan arah dan strategi pengelolaan aset. Mereka dituntut untuk mampu mengantisipasi berbagai dampak, mulai dari gejolak perang hingga siklus kenaikan suku bunga yang sedang terjadi.
Dalam situasi suku bunga tinggi seperti saat ini, pasar uang muncul sebagai salah satu instrumen investasi yang sangat menarik. Nurdiaz menjelaskan bahwa instrumen ini dapat dimanfaatkan oleh MI untuk memperoleh imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, sekaligus dengan tingkat risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen lain.
Also Read
Namun, kondisi ini berbeda bagi Reksa Dana Pendapatan Tetap. Saat suku bunga mengalami kenaikan, harga obligasi cenderung mengalami penurunan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi MI yang mengelola portofolio obligasi, menuntut strategi adaptif untuk memitigasi potensi kerugian.
Melihat sentimen suku bunga yang terus bergejolak dan dinamika global yang tidak menentu, arah kebijakan Manajer Investasi menjadi sangat krusial. Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa lebih lanjut memaparkan strategi adaptasi MI dalam menghadapi situasi ini dalam dialognya bersama Maria Katarina di program Power Lunch CNBC Indonesia pada Jumat, 19 Juni 2026.






