Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) baru-baru ini meresmikan Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar, Provinsi Bali. Proyek strategis nasional yang menjadi andalan Prabowo Subianto ini menelan investasi fantastis sebesar Rp3 triliun. Menurut laporan jabarpos.id, inisiatif ini diharapkan menjadi solusi revolusioner untuk masalah penumpukan sampah di Pulau Dewata.
Chief Executive Officer BPI Danantara, Rosan Roeslani, menekankan bahwa persoalan sampah adalah tantangan bersama yang harus segera diatasi demi masa depan. Ia menjelaskan, proyek PSEL ini bukan sekadar menghasilkan tenaga listrik, melainkan membawa dampak positif yang luas, meliputi aspek lingkungan hidup, kesehatan masyarakat, keselamatan, serta tata kelola yang baik dan benar.
"Tanpa kolaborasi dan sinergi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Danantara, dan pihak lainnya, hal positif ini tidak akan berjalan optimal," ujar Rosan, dikutip dari kanal YouTube Danantara. Ia menambahkan, teknologi yang diimplementasikan telah teruji kemampuannya di lebih dari 50 negara dan mampu mengolah segala jenis sampah, baik yang baru maupun yang sudah lama menumpuk.
Also Read
Rosan berharap, melalui proyek ini, kebersihan lingkungan di Indonesia, khususnya Bali, dapat menyamai negara maju seperti Tiongkok dan Jepang. Ia mencontohkan, di Tiongkok, PSEL bahkan bisa berdiri di tengah pemukiman elit tanpa menimbulkan bau, bahkan dilengkapi taman bacaan dan rekreasi untuk anak-anak. Targetnya, PSEL Bali ini bisa beroperasi lebih cepat dari jadwal, yaitu pada semester I tahun 2028.
Di kesempatan yang sama, Chief Investment Officer Pandu Sjahrir memaparkan detail pelaksanaan proyek yang terstruktur dan profesional. Proses pemilihan mitra dilakukan melalui tahapan ketat, dimulai dari evaluasi pada 2 hingga 30 Januari 2026, negosiasi pada 31 Januari hingga 23 Februari 2026, yang berujung pada penandatanganan perjanjian joint venture pada 2 Maret 2026.
Dari enam konsorsium yang mengajukan proposal, hanya dua yang berhasil lolos evaluasi dan melanjutkan proses negosiasi, menunjukkan prinsip kehati-hatian dan penyaringan yang selektif. Pandu mengungkapkan, lebih dari 60 tenaga ahli dan profesional dari berbagai latar belakang, dengan pengalaman pada proyek PSEL internasional seperti Thailand, Australia, Malaysia, Kuwait, Tiongkok, Irlandia, dan Jerman, dilibatkan untuk memastikan kredibilitas proses seleksi secara menyeluruh.
Proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun, mencakup lebih dari 40% timbunan sampah Bali yang terolah. Secara lingkungan, PSEL Bali diproyeksikan dapat mengurangi emisi dari tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80% dan menekan emisi karbon sebesar 640.000 ton CO2 per tahun.
Selain itu, PSEL Bali akan menghasilkan energi hijau yang cukup untuk menyuplai kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga di Bali. Investasi senilai Rp3 triliun ini juga diperkirakan menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau serta mengurangi kebutuhan lahan TPA hingga sekitar 80%. "Mari kita bersama-sama mewujudkan Indonesia bersih dan aman, sehat, resik, indah dimulai dari Bali," tutup Pandu.






