Rupiah Menguat Drastis Akankah Tembus 17 Ribu

Author Image

Endang Wulansari

10 Juli 2026, 21:04 WIB

Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di penghujung pekan ini, memicu spekulasi tentang kemungkinan kembalinya mata uang Garuda ke level Rp17.000 per dolar AS. Laporan jabarpos.id menyebutkan, penguatan ini terjadi seiring dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Pertanyaan besar kini muncul: mampukah rupiah mempertahankan momentum ini dan menembus kembali batas psikologis Rp17.000 dalam waktu dekat?

Pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026), rupiah tercatat menguat 0,14%, ditutup pada posisi Rp18.045 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv. Capaian ini membalikkan kondisi sehari sebelumnya, di mana mata uang Garuda sempat menyentuh level terlemah dalam sebulan terakhir. Sepanjang hari, pergerakan rupiah cukup stabil, dibuka menguat dan terus bertahan di rentang Rp18.045-Rp18.075 per dolar AS hingga akhir sesi.

Rupiah Menguat Drastis Akankah Tembus 17 Ribu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, untuk mencapai level Rp17.000-an, sejumlah syarat krusial harus terpenuhi. Ekonom Bank BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa tekanan global harus mereda secara signifikan, dan harga minyak dunia perlu stabil di bawah US$70 per barel.

"Kalau mau balik di bawah Rp 18.000 syaratnya ya tekanan global mereda, perang beneran selesai, harga minyak juga turun di bawah 70 dolar per barrel, dan pandangan investor global terhadap Indonesia juga balik normal lagi," ujar Myrdal kepada jabarpos.id. Ia menambahkan, jika kombinasi kondisi tersebut terwujud, rupiah berpotensi menguat hingga ke kisaran Rp17.600 per dolar AS. "Karena proyeksi kita di level sekitar Rp 17.600," tegasnya.

Pelemahan indeks dolar AS (DXY) menjadi salah satu pendorong utama penguatan rupiah hari ini. Indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia itu terpantau terkoreksi 0,11% ke level 100,788 per pukul 15.00 WIB. Dolar AS sendiri melemah untuk sesi kedua beruntun, dipicu oleh eskalasi serangan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun ketegangan di Timur Tengah meningkat, pasar juga mencermati pergerakan harga minyak dan prospek inflasi global yang bisa memengaruhi sentimen investor.

Dengan dinamika pasar yang terus berubah, perjalanan rupiah menuju level Rp17.000-an masih akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik global dan kondisi ekonomi makro. Investor akan terus memantau perkembangan ini dengan cermat, berharap rupiah dapat kembali ke performa terbaiknya.

Related Post