The Fed Ungkap Biang Kerok Inflasi AS Perang dan AI Jadi Kunci

Author Image

Endang Wulansari

11 Juli 2026, 18:04 WIB

jabarpos.id melaporkan bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, baru-baru ini mengumumkan adanya peningkatan signifikan tekanan inflasi di Negeri Paman Sam selama musim semi tahun ini. Kenaikan ini bukan tanpa sebab, melainkan hasil dari konvergensi beberapa faktor yang kompleks: kebijakan tarif, lonjakan drastis harga energi akibat gejolak geopolitik, dan investasi masif dalam pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Laporan kebijakan moneter yang disampaikan The Fed kepada Kongres AS pada Jumat (10/7/2026) ini mengindikasikan bahwa inflasi masih jauh di atas target 2% bank sentral, memicu spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan.

"Inflasi telah mengalami peningkatan sepanjang tahun ini dan masih berada pada level yang tinggi, jauh melampaui target jangka panjang Komite Pasar Terbuka Federal sebesar 2%," demikian bunyi laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Sabtu (11/7/2026). Data terbaru menunjukkan bahwa Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi tolok ukur inflasi preferensi The Fed, tercatat dua kali lipat dari target tersebut hingga bulan Mei.

The Fed Ungkap Biang Kerok Inflasi AS Perang dan AI Jadi Kunci
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di tengah kekhawatiran inflasi yang memuncak, kondisi pasar tenaga kerja AS justru menunjukkan stabilitas yang relatif. The Fed mencatat tingkat pengangguran pada bulan Juni stabil di angka 4,2%, sebuah indikator pasar yang masih dianggap sehat. Laporan tersebut juga menguraikan bahwa keseimbangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja kini relatif terjaga, dengan lowongan pekerjaan yang cenderung datar, angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang rendah, dan jumlah angkatan kerja yang stagnan. Fenomena perlambatan imigrasi dan penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja akibat demografi penduduk yang menua, secara kolektif berkontribusi pada melambatnya pertumbuhan pasokan tenaga kerja.

Meski demikian, The Fed menilai kapasitas ekonomi AS tetap tumbuh solid. Peningkatan produktivitas berhasil mengimbangi perlambatan pertumbuhan tenaga kerja. Sepanjang beberapa bulan pertama tahun 2026, Produk Domestik Bruto (PDB) AS mencatat pertumbuhan moderat sebesar 2,1% secara tahunan. Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh gelombang investasi di sektor AI, meskipun laju tersebut sedikit tertahan oleh pasar perumahan yang lesu dan konsumsi rumah tangga yang tumbuh terbatas.

Laporan ini menandai publikasi perdana di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, yang resmi menjabat pada akhir Mei setelah masa jabatan Jerome Powell berakhir. Warsh dijadwalkan akan memberikan kesaksian di hadapan komite DPR dan Senat AS pada Selasa dan Rabu pekan depan, dalam agenda evaluasi berkala kebijakan moneter. Sidang yang biasanya digelar pada musim semi sempat tertunda di tengah polemik antara mantan Ketua The Fed Jerome Powell dan Presiden AS Donald Trump.

Sejak Desember lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, kekhawatiran inflasi yang kian memuncak, terutama setelah eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari, telah mendorong ekspektasi pasar akan adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Meskipun Warsh enggan berbicara secara spesifik mengenai arah kebijakan ke depan, proyeksi para pejabat The Fed dalam rapat 16-17 Juni lalu menunjukkan pandangan yang terbelah: sebagian memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan tahun ini, sementara sebagian lainnya menilai suku bunga dapat tetap dipertahankan atau bahkan diturunkan.

Menariknya, laporan The Fed juga menyoroti AI sebagai salah satu pendorong inflasi dalam jangka pendek. Ini menjadi perubahan pandangan yang signifikan, mengingat sebelumnya Warsh memandang AI sebagai kekuatan disinflasioner melalui peningkatan produktivitas. Namun, ia kini mengakui bahwa manfaat tersebut belum dapat dirasakan secara instan, sementara permintaan akan listrik, chip khusus, dan material esensial untuk pembangunan infrastruktur AI terus melonjak, memicu tekanan harga yang signifikan.

Selain itu, laporan tersebut kembali menyinggung pertumbuhan jumlah uang beredar atau M2 untuk pertama kalinya sejak 2016, mencatat bahwa M2 telah kembali ke kisaran yang umum terjadi pada dekade 2010-an. Dalam laporannya, The Fed juga mengulas berbagai aturan kebijakan moneter yang saat ini mengarah pada perlunya kenaikan suku bunga. Meski demikian, bank sentral mengingatkan agar rekomendasi tersebut tidak dijadikan acuan secara mutlak, mengingat dinamika perekonomian yang kompleks dan potensi perubahan jalur kebijakan.

"Resep yang ditunjukkan di sini mengabaikan bahwa perekonomian akan berkembang secara berbeda jika kebijakan suku bunga mengikuti salah satu jalur yang ditentukan oleh peraturan, dan oleh karena itu, resep ini harus ditafsirkan dengan hati-hati," demikian bunyi laporan tersebut, menegaskan pendekatan The Fed yang pragmatis dan hati-hati.

Related Post