Dunia investasi dikejutkan oleh kabar buruk dari Situational Awareness, perusahaan hedge fund yang didirikan oleh Leopold Aschenbrenner, mantan peneliti OpenAI yang sempat menjadi sorotan. Menurut laporan yang diterima jabarpos.id, dana kelolaan yang sempat mencapai US$45 miliar atau sekitar Rp730 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.250 per dolar AS) pada awal Juli, kini terpaksa menjual seluruh kepemilikan saham publiknya setelah mengalami kerugian masif.
Situasi kritis ini dipicu oleh anjloknya saham-saham di sektor kecerdasan buatan (AI), yang sebelumnya menjadi taruhan besar Aschenbrenner. Strategi investasi Situational Awareness yang berfokus pada pertumbuhan AI justru berbalik menjadi bumerang, terutama akibat penurunan drastis saham perusahaan infrastruktur AI. Di sisi lain, prediksi Aschenbrenner bahwa saham perusahaan perangkat lunak akan merosot justru tidak terbukti, bahkan beberapa di antaranya malah menguat, memperparah kondisi portofolio.
Sumber-sumber terdekat mengungkapkan bahwa bank dan broker yang bermitra dengan Situational Awareness kini berupaya keras mengumpulkan dana tunai. Langkah ini krusial untuk memenuhi kewajiban margin call, yaitu tuntutan penambahan dana jaminan ketika nilai investasi yang dibiayai pinjaman merosot tajam. Di tengah tekanan hebat ini, hedge fund raksasa Citadel milik miliarder Ken Griffin dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi seluruh portofolio saham publik milik Situational Awareness.
Also Read
Salah satu pemicu kerugian terbesar adalah jatuhnya harga saham sejumlah perusahaan andalan, termasuk produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix. Sebaliknya, posisi investasi yang dipasang untuk meraih keuntungan dari penurunan saham perusahaan perangkat lunak seperti Adobe justru merugi karena harga sahamnya justru naik. Nilai aset yang semula menjulang tinggi pada awal Juli, menyusut drastis hanya dalam hitungan pekan.
Bank-bank investasi besar seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan JPMorgan Chase turut membantu Situational Awareness dalam mengurangi kepemilikan investasinya secara bertahap. Hal ini dilakukan untuk menghindari tekanan lebih lanjut pada harga pasar akibat penjualan aset dalam jumlah besar. Situational Awareness juga sempat dikabarkan menjajaki penjualan kepemilikan di perusahaan AI Anthropic, meskipun juru bicara perusahaan membantah kabar tersebut.
Leopold Aschenbrenner, yang kini berusia 25 tahun, merupakan lulusan terbaik Universitas Columbia dan sempat bergabung dengan tim Superalignment OpenAI sebelum dipecat pada tahun 2024. Ia dituduh membocorkan informasi internal, tuduhan yang dibantahnya dengan menyatakan bahwa dokumen yang dibagikan bukanlah rahasia melainkan bahan diskusi mengenai keamanan pengembangan AI.
Aschenbrenner adalah salah satu figur yang paling diperhatikan di dunia investasi AI. Ia meyakini bahwa perkembangan AI akan memicu lonjakan permintaan besar terhadap chip, semikonduktor, pusat data, dan pasokan listrik, menjadikannya ladang investasi yang menjanjikan. Strategi ini sempat membuahkan keuntungan fantastis dan membuat Situational Awareness berkembang sangat cepat. Berdasarkan dokumen regulator pada akhir kuartal I, investasi terbesar hedge fund tersebut berada di Nebius Group, Sandisk, Micron, dan CoreWeave. Namun, sepanjang bulan ini, seluruh saham tersebut telah anjlok lebih dari 35%.
Hingga kini, besaran pasti kerugian maupun dana yang dibutuhkan untuk menstabilkan Situational Awareness masih belum jelas. Gejolak ini menjadi ujian terberat bagi strategi investasi di sektor AI, yang sebelumnya dipandang sebagai salah satu kisah sukses paling spektakuler di Wall Street.






