JELI Terjebak Penjualan Fantastis

Author Image

Endang Wulansari

1 Agustus 2026, 00:04 WIB

Dunia pasar modal digegerkan oleh insiden tak lazim yang menimpa saham PT Niramas Utama Tbk. (JELI), produsen Jelly Inaco. Sebuah laporan dari jabarpos.id mengungkapkan adanya kepanikan luar biasa di kalangan investor setelah munculnya antrean penawaran jual yang mencapai angka fantastis dan tidak masuk akal.

Manajemen JELI, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa pada tanggal 30 Juli 2026, sistem perdagangan saham perseroan tiba-tiba menampilkan antrean penawaran jual yang mencapai sekitar 68 juta lot. Angka ini sontak memicu kebingungan dan kekhawatiran, mengingat total saham tercatat JELI hanya sekitar 12,66 juta lot, dengan saham yang beredar bebas di publik (free float) jauh lebih kecil, yakni sekitar 2,66 juta lot.

JELI Terjebak Penjualan Fantastis
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Ketidaksesuaian data yang mencolok ini secara instan memicu gelombang "panic selling" di kalangan investor. Harga saham JELI pun bergerak liar dan tak terkendali, menciptakan kerugian signifikan bagi perseroan, tidak hanya dalam pembentukan harga saham yang wajar tetapi juga terhadap reputasi emiten di mata para pemodal.

Menanggapi insiden ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) segera bertindak. Setelah melakukan pertemuan dengan pihak JELI pada tanggal yang sama, BEI memastikan bahwa kejadian tersebut bukanlah akibat dari gangguan sistem bursa, serangan siber (cyberattack), maupun masalah teknis (glitch) pada sistem perdagangan mereka.

Penelusuran awal yang dilakukan oleh BEI justru mengarah pada adanya kesalahan pada sistem Anggota Bursa (AB) tertentu. Kesalahan inilah yang diduga kuat menjadi penyebab munculnya penawaran jual dalam jumlah yang jauh melampaui total saham perseroan yang tercatat. Demikian informasi yang berhasil dihimpun jabarpos.id dari keterbukaan informasi BEI.

Permasalahan pada sistem Anggota Bursa tersebut saat ini masih dalam proses penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang. Sementara itu, JELI menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi erat dengan regulator dan pihak terkait guna memastikan penyelesaian masalah ini berjalan dengan transparan dan efektif.

Meskipun demikian, JELI berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa insiden ini hanya berdampak pada persepsi pasar yang memicu tekanan jual dan pergerakan harga saham yang tidak wajar. Pihak perseroan menjamin bahwa kondisi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan secara keseluruhan.

Fundamental bisnis dan operasional perusahaan dipastikan tetap solid dan terjaga di tengah dinamika pasar yang bergejolak. JELI juga menegaskan kembali komitmennya terhadap prinsip keterbukaan informasi, penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), serta komunikasi yang transparan kepada seluruh investor dan pemangku kepentingan.

Sebagai gambaran, sebelum insiden mencengangkan ini terungkap, saham JELI pada Rabu, 29 Juli 2026, sempat tertekan cukup dalam, anjlok 8,27% ke level Rp610. Tren pelemahan ini kemudian berlanjut pada hari berikutnya dengan penurunan sebesar 0,82%.

Related Post