IHSG Terbang Tinggi Sinyal Reli Panjang

Author Image

Endang Wulansari

21 Agustus 2026, 04:04 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan lebih dari 1% pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Penguatan ini membawa indeks menembus level psikologis 6.500, didorong terutama oleh saham-saham di sektor komoditas dan pertambangan. Menurut laporan jabarpos.id, performa impresif ini memicu pertanyaan tentang potensi kelanjutan reli panjang di pasar modal.

Pada penutupan sesi kedua, IHSG bertengger di 6.501,58, melonjak 107,46 poin atau setara 1,68%. Indeks dibuka di 6.447,25, dengan level tertinggi harian mencapai 6.514 dan terendah di 6.4444. Aktivitas perdagangan cukup ramai, dengan total transaksi mencapai Rp 15,01 triliun, melibatkan 43,68 miliar saham dalam 2,29 juta kali transaksi. Dari total saham yang diperdagangkan, 452 saham menguat, 190 melemah, dan 150 lainnya stagnan.

IHSG Terbang Tinggi Sinyal Reli Panjang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sektor bahan baku menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan fantastis 4,03%. Sektor konsumer primer juga tidak kalah cemerlang dengan kenaikan 2,52%, diikuti konsumer non-primer yang tumbuh 1,81%. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor komoditas dan tambang menjadi penopang kuat performa indeks.

Kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan sumbangan sekitar 14,82 poin. Disusul PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang berkontribusi 9,52 poin, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan 9,41 poin. Saham-saham tambang lain seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga turut memberikan dorongan signifikan.

Dari sisi sentimen domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Agustus 2026 menjadi sorotan. Kebijakan ini, bersama dengan Deposit Facility 5% dan Lending Facility 6,5%, bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Di kancah global, pasar mendapatkan angin segar dari penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS. Yield obligasi pemerintah AS tenor panjang melandai setelah Departemen Keuangan AS menggandakan program pembelian kembali obligasi. Indeks dolar AS melemah 0,84% ke level 98,83, memberikan ruang bagi potensi penguatan rupiah dan mengurangi tekanan pada Surat Berharga Negara (SBN).

Namun, optimisme ini sedikit tertahan oleh risalah FOMC yang mengindikasikan inflasi AS masih tinggi. Beberapa pejabat The Fed bahkan tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika inflasi tidak kunjung mereda. Sentimen ini menjadi krusial di tengah desakan Presiden AS Donald Trump agar The Fed memangkas suku bunga.

Sementara itu, harga minyak mentah kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Minyak jenis WTI naik 0,77% menjadi US$85,59 per barel, dan Brent menguat 0,44% menjadi US$91,42 per barel.

Di kawasan Asia, investor menantikan rilis data neraca perdagangan Jepang bulan Juli serta keputusan Loan Prime Rate (LPR) China. Pasar memproyeksikan LPR 1 tahun China tetap di 3% dan LPR 5 tahun di 3,5%. Data dari Jepang juga penting untuk mengukur kondisi permintaan regional, termasuk potensi dampaknya terhadap ekspor Indonesia, yang dapat memengaruhi pergerakan pasar selanjutnya.

Related Post