Bunga Korsel Bisa Naik Lagi

Author Image

Endang Wulansari

22 Agustus 2026, 00:04 WIB

Bank of Korea (BOK) memberikan sinyal kuat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan, menyusul laporan dari jabarpos.id, di tengah inflasi yang terus melampaui target dan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang melampaui ekspektasi. Wakil Gubernur Senior BOK, Kwon Min-soo, menegaskan bahwa keputusan ini akan diambil dengan sangat hati-hati dan fleksibel, mempertimbangkan berbagai dinamika ekonomi.

Kwon Min-soo menjelaskan bahwa tiga pilar utama—inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas keuangan—akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan. Ia juga mengingatkan bahwa setiap kenaikan suku bunga memiliki dua sisi mata uang: manfaat dalam mengendalikan harga, namun juga potensi efek samping terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Bunga Korsel Bisa Naik Lagi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Saatnya untuk mengambil keputusan kebijakan dengan sangat hati-hati, dan fleksibel jika diperlukan," ujar Kwon kepada wartawan Jumat lalu, seperti dikutip jabarpos.id. Ia menambahkan, "Ketika memutuskan suku bunga, kita harus mempertimbangkan tren pertumbuhan dan inflasi, serta stabilitas keuangan."

Sinyal ini muncul menjelang rapat kebijakan moneter BOK yang dijadwalkan pada 27 Agustus mendatang. Pada Juli lalu, BOK telah mengambil langkah dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dari 2,50% menjadi 2,75%. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dalam 3,5 tahun terakhir.

Tekanan inflasi menjadi perhatian utama karena angka inflasi Korea Selatan masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral. Di sisi lain, pemulihan ekonomi menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan, terutama didukung oleh sektor semikonduktor yang tangguh. Kondisi ini membuka ruang bagi BOK untuk kembali mempertimbangkan pengetatan kebijakan.

Meski demikian, Kwon menolak untuk dilabeli sebagai pejabat yang cenderung ‘hawkish’ (pro-pengetatan) atau ‘dovish’ (pro-pelonggaran). Ia menegaskan bahwa kebijakan akan selalu ditentukan berdasarkan kondisi ekonomi riil dan data terkini yang tersedia. "Saya tidak ingin diberi label hawkish atau dovish. Saya akan mengambil keputusan secara fleksibel berdasarkan data," tegasnya.

Selain inflasi dan pertumbuhan, nilai tukar won juga menjadi faktor krusial yang diperhatikan BOK. Meskipun won telah menguat tajam sejak bulan lalu, mendekati level tertinggi dalam 11 bulan, Kwon menilai volatilitas mata uang dan berbagai faktor eksternal lainnya tetap perlu diperhitungkan dalam formulasi kebijakan moneter.

Dengan suku bunga saat ini di level 2,75%, pasar kini menanti apakah BOK akan kembali menaikkan bunga pada rapat pekan depan atau memilih untuk menahan diri. Pernyataan Kwon jelas menunjukkan bahwa bank sentral masih membuka kedua opsi tersebut, dengan keputusan akhir akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, stabilitas keuangan, serta risiko eksternal yang terus bergerak dinamis.

Related Post