Pemerintah India mengambil langkah berani dengan melepas sebagian kepemilikan saham perusahaan milik negara (BUMN) kepada publik. Ini adalah strategi vital untuk menopang perekonomian dan mengatasi defisit fiskal yang membayangi. Meski mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat dibandingkan negara-negara besar lainnya, laju ini terancam oleh inflasi tinggi dan tekanan pada belanja pemerintah. Laporan dari jabarpos.id menyebutkan bahwa inisiatif ini menjadi solusi krusial di tengah tantangan ekonomi makro yang semakin berat.
Defisit fiskal yang terus melebar selama beberapa tahun terakhir telah membebani keuangan negara. Demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa memperparah kondisi fiskal, penjualan saham BUMN menjadi opsi yang tak terhindarkan. Langkah ini tidak hanya bertujuan mengumpulkan dana segar, tetapi juga mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Sejak awal tahun, pemerintah India telah aktif melepas saham di 10 perusahaan. Di antaranya adalah Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India. Aksi ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang cenderung lesu, menunjukkan urgensi dan komitmen pemerintah.
Also Read
Terbaru, penjualan 6,5% saham di Life Insurance Corporation of India (LIC), perusahaan asuransi jiwa terkemuka, berhasil diselesaikan. Dari transaksi ini, India meraup sekitar US$3,3 miliar, setara dengan sekitar Rp59,06 triliun. Penjualan saham LIC ini dihargai dengan diskon 10% untuk menarik minat investor di pasar saham India, sebuah strategi yang terbukti efektif dengan tingginya penawaran pembelian melebihi target.
Menurut Prime Database, penyedia intelijen pasar di India, keseluruhan aksi penjualan saham BUMN ini telah mengumpulkan lebih dari US$6,5 miliar atau sekitar Rp116,33 triliun. Angka ini merupakan salah satu pengumpulan dana tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Para ahli menilai, pemerintah India berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan penggalangan dana sebesar 800 miliar rupee atau sekitar US$8,4 miliar (Rp150,33 triliun) dari divestasi BUMN. Hingga kini, lebih dari 65% dari target divestasi tahunan telah terpenuhi.
Anubhuti Sahay, Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered Bank, menyoroti pentingnya strategi ini. "Memanfaatkan hasil divestasi adalah strategi yang sangat bagus," ujarnya, seperti dikutip dari jabarpos.id. Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, India jarang memenuhi target divestasi karena situasi fiskal yang relatif ‘nyaman’. Namun, kini dengan risiko penurunan pendapatan dan peningkatan pengeluaran akibat beban subsidi yang lebih tinggi, penjualan saham BUMN ini ibarat ‘memanfaatkan aset berharga keluarga pada saat dibutuhkan’.
Dana yang terkumpul dari penjualan saham BUMN ini dinilai krusial bagi India dalam menghadapi tantangan ekonomi makro yang kian kompleks. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal sekaligus memastikan keberlanjutan roda perekonomian negara.






