Masa kelam krisis moneter 1997-1998 masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. Kala itu, badai ekonomi menerjang, meluluhlantakkan nilai tukar rupiah hingga ambruk tak berdaya. Di tengah keputusasaan, sebuah inisiatif tak terduga muncul dari putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut, yang mengajak masyarakat untuk ‘membuang’ dolar demi menyelamatkan mata uang nasional. Menurut catatan jabarpos.id, gerakan ini menjadi simbol perlawanan sekaligus harapan di masa-masa genting tersebut.
Gejolak ini, seperti diulas sejarawan Jan Luiten van Zanden dalam bukunya ‘Ekonomi Indonesia 1800-2010’, bermula dari krisis baht Thailand pada pertengahan 1997 yang dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah yang sebelumnya stabil di kisaran Rp2.000 per dolar AS, terjun bebas hingga menyentuh Rp10.000, bahkan sempat meroket ke Rp16.000. Kepanikan pun tak terhindarkan, mengancam stabilitas ekonomi dan sosial.
Menyikapi situasi yang kian tak terkendali, pada Januari 1998, Mbak Tutut meluncurkan sebuah gerakan moral bernama Gerakan Cinta Rupiah (Getar). Misinya lugas: membangkitkan nasionalisme ekonomi dengan mendorong masyarakat menukarkan simpanan dolar AS mereka ke rupiah. Harapannya, langkah ini dapat membantu otoritas moneter menstabilkan nilai tukar dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap perekonomian nasional.
Also Read
Teladan dari Sang Putri Presiden
Sebagai wujud komitmen nyata, Mbak Tutut tak segan memberi teladan. Ia merelakan US$50 ribu dari kantong pribadinya untuk ditukarkan ke rupiah, sebuah aksi yang ia sebut bukan sekadar penyelamatan fiskal, melainkan juga simbol membangkitkan semangat kebangsaan di tengah badai krisis. Harian Bali Post edisi 16 Januari 1998 bahkan menulis, "Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang dipelopori Ny. Siti Hardianti Rukamana atau Mbak Tutut benar-benar menggetarkan."
Gelombang patriotisme ini segera menular ke kalangan elite. Sejumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) berbondong-bondong mendatangi Bank Indonesia untuk menukarkan dolar mereka. Di antara rombongan itu, tampak nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kala itu masih menjabat anggota MPR dari Fraksi ABRI, turut menyumbangkan US$1.300. Tak hanya parlemen, jajaran menteri dan teknokrat ekonomi, termasuk Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono, juga ikut melepas kepemilikan dolar mereka. Dari aksi awal ini, sekitar US$650 ribu berhasil terkumpul di Gedung Bank Indonesia.
Para taipan dan konglomerat pun tak mau ketinggalan. Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik, seperti diberitakan Berita Yudha pada 13 Januari 1998, masing-masing menyumbangkan US$100 ribu. Posisi berikutnya ditempati Sukamdani Sahid Gitosardjono dengan US$50.100, bahkan ia juga menyerahkan 1 kilogram emas miliknya. Seiring berjalannya waktu, gerakan ini kian masif dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Mbak Tutut sendiri kemudian menambah kontribusinya dengan menyerahkan 2 kilogram emas pribadi kepada negara, menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan.
Kritik dan Akhir Sebuah Rezim
Namun, euforia Gerakan Cinta Rupiah tak bertahan lama. Hanya berselang beberapa pekan, kritik tajam mulai dilayangkan oleh para ekonom dan pengamat. Mereka menilai, inisiatif ini tak lebih dari sekadar aksi simbolis yang minim dampak di tengah guncangan pasar keuangan global. Pasalnya, total dana yang terkumpul dari gerakan ini ditaksir tidak lebih dari US$5 juta, angka yang terlampau kecil untuk menambal kebutuhan devisa Indonesia yang telah mencapai miliaran dolar AS. Pengusaha Fahmi Idris, misalnya, dengan tegas menyatakan, "Ini tak akan menyelesaikan masalah," seperti dikutip dari Bali Post edisi 1 Februari 1998.
Kritik tersebut terbukti sahih. Rupiah terus terpuruk, memicu lonjakan harga kebutuhan pokok yang mencekik rakyat. Krisis ekonomi pun bermetamorfosis menjadi krisis sosial-politik akut, memuncak pada gelombang demonstrasi massal dan kerusuhan berdarah di berbagai kota pada Mei 1998. Puncaknya, pada 21 Mei 1998, tirai kekuasaan Orde Baru yang telah berdiri lebih dari tiga dekade akhirnya resmi ditutup dengan lengsernya Presiden Soeharto, mengakhiri sebuah babak kelam dalam sejarah Indonesia.






