Rupiah Terjun Bebas Menuju 18 Ribu

Author Image

Endang Wulansari

23 Oktober 2026, 08:04 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data perdagangan terbaru, mata uang Garuda terpantau merosot hingga menyentuh level Rp18.045 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan, mengingat angka tersebut merupakan titik terendah setelah sebelumnya bertahan di level Rp18.000 per dolar AS.

Menanggapi gejolak tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) segera angkat bicara untuk memberikan kepastian kepada pasar. Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional akan tetap dijaga melalui sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Kemenkeu berkomitmen untuk menjaga disiplin anggaran agar kondisi ekonomi tetap terkendali di tengah tekanan eksternal yang kuat.

Rupiah Terjun Bebas Menuju 18 Ribu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sistem Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menjelaskan bahwa penanganan langsung terhadap nilai tukar rupiah merupakan otoritas penuh dari Bank Indonesia (BI). Namun, ia menekankan bahwa peran pemerintah sangat krusial dalam menopang stabilitas tersebut melalui pengelolaan fiskal yang sehat.

"Jika bicara mengenai teknis penanganan rupiah, rekan-rekan di Bank Indonesia yang lebih berwenang memberikan penjelasan detail. Namun, prinsip kami di Kementerian Keuangan adalah memastikan sisi fiskal tetap terjaga dengan disiplin," ujar Herman saat memberikan keterangan kepada media.

Herman juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah sebagai pengelola fiskal dan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Ia menegaskan bahwa pemerintah sangat menghormati independensi Bank Indonesia dalam mengambil keputusan terkait suku bunga maupun kebijakan moneter lainnya. Menurutnya, kedua instansi ini harus bekerja layaknya sebuah tim sepak bola yang memiliki peran berbeda namun satu tujuan.

"Kami bekerja secara sinergis seperti sebuah tim. Ada yang bertugas bertahan (defend), ada yang menyerang (attacking), dan ada yang menjadi pengatur serangan (playmaker). Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter inilah yang akan menjaga stabilitas ekonomi nasional," tambahnya.

Lebih lanjut, Herman mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh Bank Indonesia dalam merespons dinamika pasar. Salah satunya adalah kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) yang dilakukan BI untuk menjaga likuiditas perbankan, meskipun suku bunga acuan masih dipertahankan pada level saat ini.

Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan tekanan terhadap rupiah, pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap optimis. Herman meminta publik untuk tetap percaya diri terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih cukup tangguh.

"Saya harap masyarakat tetap percaya diri terhadap negara kita (be confident on our country), karena koordinasi antara pemerintah dan bank sentral terus diperkuat untuk menghadapi dinamika ini," pungkasnya.

Related Post