Rupiah Terpuruk Tembus Rp18.000 Per Dolar AS

Author Image

Endang Wulansari

25 Oktober 2026, 10:04 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa yang mengkhawatirkan di pasar keuangan. Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), mata uang Garuda tercatat mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hingga tengah hari pukul 12.30 WIB, rupiah sudah menyentuh level Rp18.079 per dolar AS, sebuah angka yang lebih buruk dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.045 per dolar AS.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia (BI) segera memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Pihak bank sentral menyebutkan bahwa tekanan besar yang dialami rupiah saat ini merupakan hasil dari kombinasi faktor eksternal yang kuat serta dinamika pasar keuangan di dalam negeri.

Rupiah Terpuruk Tembus Rp18.000 Per Dolar AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Firman Mochtar, mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama adalah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Fenomena ini membuat aset-aset yang menggunakan denominasi dolar menjadi jauh lebih menggiurkan bagi para investor global. Ketika imbal hasil obligasi AS, terutama pada tenor 10 tahun, merangkak naik, investor cenderung menarik modal mereka dari negara-negara berkembang untuk dipindahkan kembali ke Negeri Paman Sam.

"Dampaknya adalah penguatan indeks dolar (DXY) terhadap mata uang negara-negara maju. Indeks tersebut sudah menyentuh angka 101," jelas Firman dalam keterangan resminya di Jakarta. Penguatan indeks dolar ini secara otomatis memberikan tekanan sistemik terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Semakin kuat dolar AS di kancah global, maka semakin lemah pula daya saing mata uang negara lain di hadapannya.

Namun, persoalan rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Firman juga menyoroti adanya sentimen negatif dari dalam negeri yang turut memperkeruh suasana. Salah satu isu yang mencuat adalah rencana dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait wacana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market.

Perubahan klasifikasi ini dinilai sensitif karena dapat mengubah persepsi investor internasional terhadap profil risiko pasar keuangan Indonesia. Ketidakpastian mengenai perubahan status ini memicu kekhawatiran akan adanya arus modal keluar (capital outflow) yang masif dari pasar saham dan obligasi domestik.

"Jadi, kita menghadapi tekanan ganda. Ada aliran modal keluar, tekanan dari kondisi global, serta tekanan dari sentimen domestik. Ketiga faktor inilah yang secara kolektif menekan nilai tukar rupiah ke titik terendahnya," tambah Firman.

Kombinasi antara penguatan dolar AS yang agresif dan ketidakpastian sentimen investor terhadap pasar modal Indonesia menciptakan badai sempurna bagi rupiah. Para pengamat kini menantikan langkah kebijakan moneter selanjutnya dari Bank Indonesia untuk meredam volatilitas dan menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terus merosot lebih dalam.

Related Post