Ketegangan Timur Tengah Picu Harga Minyak Meroket

Author Image

Endang Wulansari

25 Oktober 2026, 21:31 WIB

Jabarpos.id – Gejolak geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang stabilitas pasar komoditas global. Konflik yang melibatkan kelompok Houthi dan Arab Saudi telah memicu kekhawatiran mendalam mengenai gangguan pasokan energi dunia. Dampak langsung dari eskalasi ketegangan ini terlihat jelas pada lonjakan drastis harga minyak mentah jenis Brent yang kini telah menembus angka fantastis sebesar USD 113 per barel.

Kenaikan harga minyak ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa risiko keamanan di jalur distribusi energi utama dunia sedang berada pada titik kritis. Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga merembet ke berbagai instrumen investasi lainnya, termasuk pasar saham dan nilai tukar mata uang.

Ketegangan Timur Tengah Picu Harga Minyak Meroket
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di pasar modal domestik, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan dinamika yang cukup kontras di tengah tekanan global. Berdasarkan pantauan perdagangan pada Jumat (23/10/2026) pukul 10.03 WIB, IHSG terpantau bergerak menguat sebesar 0,70 persen ke level 5.425. Penguatan indeks ini terjadi di tengah sentimen MSCI yang terus berlanjut, yang memberikan napas bagi para investor di bursa saham Indonesia.

Namun, penguatan indeks tersebut harus dibarengi dengan kewaspadaan terhadap nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat mengalami tekanan dan melemah ke posisi Rp 18.048 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang domestik ini merupakan dampak domino dari ketidakpastian global dan fenomena safe haven yang tengah dicari oleh para investor internasional.

Selain minyak mentah, sektor komoditas energi lainnya juga menunjukkan tren positif. Harga batu bara dilaporkan terus mengalami penguatan secara konsisten. Hal ini diduga berkaitan dengan kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok energi secara menyeluruh akibat situasi di Timur Tengah. Lonjakan harga batu bara ini memberikan angin segar bagi emiten pertambangan, meskipun risiko volatilitas pasar tetap tinggi.

Di sisi lain, pasar logam mulia menunjukkan pergerakan yang berbeda. Harga emas, yang biasanya menjadi instrumen perlindungan nilai saat terjadi konflik, justru mengalami koreksi dan turun ke level USD 4.000 per troy ounce. Penurunan ini menjadi anomali di tengah situasi dunia yang sedang tidak menentu, yang mengindikasikan adanya pergeseran strategi alokasi aset oleh para investor besar.

Para analis memperingatkan bahwa jika ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, maka volatilitas harga komoditas energi akan terus berlanjut. Hal ini berpotensi memicu inflasi global yang lebih tinggi dan memberikan tekanan tambahan pada kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk Indonesia. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap pergerakan harga minyak Brent yang dapat menjadi motor utama penggerak pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Related Post