IHSG Tertekan di Tengah Gejolak Politik dan Global

Author Image

Endang Wulansari

4 November 2026, 12:31 WIB

<strong’Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren negatif pada perdagangan sesi pertama di tengah ketidakpastian yang melanda pasar domestik maupun global. Hingga penutupan sesi I pada Rabu, 4 November 2026, indeks tercatat berada di level 4.860,94. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 43,35 poin atau merosot sekitar 0,88 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Pergerakan IHSG sejak pembukaan pasar terlihat cukup fluktuatif. Indeks sempat dibuka di level 4.856,96 dan sempat tertekan hingga menyentuh titik terendah di 4.824,36 pada awal sesi. Meski sempat mencoba bangkit hingga menyentuh level 4.902,71, tekanan jual kembali mendominasi menjelang tengah hari. Tercatat, volume transaksi mencapai 148,83 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5,36 triliun.

IHSG Tertekan di Tengah Gejolak Politik dan Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi ini dipicu oleh berbagai sentimen kuat yang menyelimuti pasar. Di dalam negeri, isu keamanan politik menjadi perhatian utama setelah munculnya kasus penyadapan yang melibatkan pejabat tinggi. Kasus ini tidak hanya mengguncang kepercayaan publik, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi investor terkait risiko keamanan berinvestasi di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Bareskrim Polri telah menetapkan tiga tersangka dalam dugaan penyadapan ilegal dan akses ilegal terhadap data elektronik, yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri.

Sementara itu, di kancah internasional, perhatian investor tertuju pada hasil Pemilu Tengah (midterm elections) di Amerika Serikat. Hasil pemilu tersebut diprediksi akan mengubah peta kekuatan politik di AS, di mana Partai Demokrat berpotensi mengambil alih kendali atas Kongres, yang dapat mengancam dominasi Partai Republik pimpinan Donald Trump.

Selain itu, data ketenagakerjaan dari Amerika Serikat juga memberikan kejutan. Data JOLTs menunjukkan lonjakan lowongan kerja yang tidak terduga menjadi 7,523 juta posisi pada September 2026, melampaui ekspektasi pasar. Hal ini memberikan sinyal kuat mengenai dinamik ekonomi di negara tersebut.

Di sisi lain, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memberikan catatan optimis meskipun pasar sedang bergejolak. KSSK menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga. Meski menghadapi tekanan dari eskalasi geopolitik global dan kenaikan harga energi, pemerintah tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,4-5,5 persen pada tahun 2026.

Optimisme ini didukung oleh realisasi pendapatan negara yang tumbuh 25,5 persen secara tahunan hingga September 2026. Selain itu, aliran modal asing (net inflow) masih mencatatkan angka positif yang signifikan, serta meningkatnya penggunaan transaksi mata uang lokal (LCT) dengan mitra dagang, yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah badai ketidakpastian global.

Related Post