Dua Puluh Lima Perusahaan Siap Melantai di Bursa

Author Image

Endang Wulansari

4 November 2026, 10:31 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan sinyal positif yang sangat kuat di tengah dinamika ekonomi global. Minat korporasi domestik untuk melakukan aksi korporasi, khususnya melalui penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO), terpantau masih sangat tinggi. Hal ini menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan struktur pasar keuangan di tanah air.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat antrean panjang perusahaan yang tengah bersiap untuk melantai di bursa. Berdasarkan data terbaru, tercatat ada sekitar 25 rencana penawaran umum yang sudah masuk dalam daftar tunggu atau pipeline OJK. Meski nilai indikatif dari rencana-rencana tersebut belum dipublikasikan secara mendetail, kehadiran puluhan calon emiten ini menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap ekosistem pasar modal Indonesia.

Dua Puluh Lima Perusahaan Siap Melantai di Bursa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Di dalam pipeline juga masih banyak perusahaan yang ingin melakukan IPO di pasar modal kita. Saat ini masih ada 25 rencana penawaran umum yang sedang diproses," ujar sosok yang akrab disapa Kiki tersebut dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Data menunjukkan bahwa penghimpunan dana oleh korporasi domestik terus menunjukkan tren yang menjanjikan. Hingga akhir Oktober 2026, total nilai dana yang berhasil dihimpun di pasar modal telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp202,04 triliun. Menariknya, dominasi penghimpunan dana ini berasal dari penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) yang mencatatkan nilai sebesar Rp150,43 triliun.

Selain dari sisi korporasi, geliat pasar modal juga didorong oleh pertumbuhan basis investor ritel yang sangat masif. Jumlah Single Investor Identification (SID) terus meroket hingga mencapai 33,36 juta investor per 26 Oktober 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 63,94% secara tahunan (year-to-date), yang menandakan semakin tingginya literasi dan inklusi keuangan masyarakat terhadap instrumen investasi.

Kesehatan fundamental emiten yang sudah ada di bursa juga dilaporkan tetap terjaga dengan baik. Berdasarkan Laporan Keuangan Tengah Tahunan (LKTT) tahun 2026, sebanyak 73,54% emiten saham di Bursa Efek Indonesia tercatat berhasil membukukan laba. Kondisi ini memberikan rasa aman bagi para investor dalam menanamkan modalnya.

Menanggapi perkembangan ini, OJK menegaskan komitmennya untuk terus melakukan reformasi pasar modal secara berkelanjutan. Fokus utama OJK saat ini adalah meningkatkan transparansi, likuiditas, serta granularitas data guna menciptakan pasar yang lebih efisien. Namun, OJK juga memberikan peringatan keras terkait aspek penegakan hukum (enforcement).

Kiki menekankan bahwa OJK tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk kecurangan. Sebagai bukti nyata, pada pertengahan Oktober 2026, OJK telah menjatuhkan sanksi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia, yang bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di kawasan regional.

"Jangan melakukan manipulasi, coordinated trading, atau praktik curang lainnya. Kami sangat terbuka untuk menjatuhkan sanksi lain di luar sekadar denda administratif," tegasnya sebagai peringatan bagi seluruh pelaku pasar agar menjaga integritas bursa.

Related Post