Rupiah Kembali Tertekan di Level Baru

Author Image

Endang Wulansari

4 November 2026, 15:31 WIB

Jabarpos.id – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Setelah sempat menunjukkan performa positif dan menguat pada hari sebelumnya, mata uang Garuda justru kembali terperosok ke zona merah.

Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah di level Rp18.155 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Selasa (3/11/2026) yang berada di angka Rp18.135 per dolar AS, maka terjadi penurunan sebesar 0,11 persen. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, fluktuasi nilai tukar rupiah bergerak dinamis dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.180 per dolar AS.

Rupiah Kembali Tertekan di Level Baru
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi ini terasa cukup kontras dengan pergerakan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang tersebut justru terpantau melemah 0,45 persen ke posisi 101,405. Namun, meski dolar AS sedang mengalami tekanan, hal tersebut nampaknya belum cukup kuat untuk mampu mendorong penguatan rupiah di pasar domestik.

Pelemahan mata uang Garuda yang terus berlanjut belakangan ini telah menjadi perhatian serius bagi Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter menilai bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor eksternal yang sulit dikendalikan.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa rupiah sebenarnya sempat menunjukkan performa yang sangat solid dengan menyentuh kisaran Rp17.800 per dolar AS pada akhir September 2026. Namun, memasuki bulan Oktober hingga awal November ini, tekanan kembali datang menghantam.

"Pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen investor global yang cenderung menghindari aset di negara-negara berkembang," papar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (3/11/2026).

Selain faktor geopolitik, pasar keuangan global saat ini juga tengah menanti rilis data penting dari Amerika Serikat. Fokus investor tertuju pada laporan neraca perdagangan bulan September 2026 yang dijadwalkan keluar malam ini pukul 20.30 WIB.

Data ini sangat krusial karena pada Agustus lalu, Amerika Serikat mencatatkan defisit perdagangan yang cukup lebar, yakni mencapai US$105,6 miliar, melonjak dari angka US$92,8 miliar pada bulan Juli. Defisit tersebut merupakan yang terbesar sejak Maret 2025, dipicu oleh lonjakan impor yang mencapai rekor US$420,8 miliar.

Pasar kini tengah bersiap melihat apakah defisit perdagangan AS akan semakin melebar atau justru mulai menyempit. Hasil dari rilis data tersebut diprediksi akan menjadi katalis kuat yang menentukan arah pergerakan dolar AS dan, secara tidak langsung, akan berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar rupiah ke depannya.

Related Post