Jabarpos.id – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya di pasar keuangan pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Setelah sempat terpuruk dan berada di zona merah pada hari sebelumnya, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil bangkit dengan penguatan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah berhasil menutup perdagangan di level Rp18.075 per dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,44 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Rabu (4/11/2026) yang berada di level Rp18.155 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan berlangsung, fluktuasi nilai tukar rupiah sempat bergerak dinamis di rentang Rp18.055 hingga Rp18.170 per dolar AS sebelum akhirnya menguat di akhir sesi.
Kenaikan performa rupiah ini tidak lepas dari pelemahan indeks dolar AS (DXY). Indeks yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia tersebut terpantau merosot 0,16 persen ke posisi 101,405 pada pukul 15.00 WIB. Kondisi ini memberikan angin segar bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Also Read
Sentimen positif dari dalam negeri menjadi motor utama penguatan ini. Pasar merespons dengan sangat baik laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026. Data menunjukkan bahwa ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian ini tergolong impresif karena melampaui ekspektasi para analis. Sebelumnya, konsensus dari 15 lembaga keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya berada di angka 5,20 persen YoY.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartal ini juga menunjukkan tren peningkatan dibandingkan kuartal II-2026 yang mencatatkan angka 5,29 persen YoY. Secara kuartalan (quarter-to-quarter/QtQ), ekonomi Indonesia juga tumbuh sebesar 1,59 persen.
Kabar baik tidak berhenti di situ. BPS juga merilis data ketenagakerjaan yang menunjukkan perbaikan kondisi sosial-ekonomi. Jumlah pengangguran di Indonesia tercatat menurun menjadi 7,38 juta orang, atau berkurang sebanyak 77.000 orang jika dibandingkan dengan periode Agustus 2025. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, dalam keterangannya menyebutkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja justru mengalami lonjakan signifikan, yakni bertambah sekitar 1,4 juta orang sehingga totalnya mencapai 147,9 juta orang.
Meski demikian, para pelaku pasar tetap disarankan untuk waspada terhadap dinamika global. Fokus investor kini mulai beralih pada arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Pasar tengah menanti rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat (6/11/2026).
Berdasarkan data CME FedWatch yang dikutip dari Reuters, mayoritas pelaku pasar masih memprediksi adanya peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada bulan Desember mendatang dengan probabilitas mencapai 80,7 persen. Data tenaga kerja AS akan menjadi kunci untuk menentukan apakah ekonomi Amerika masih cukup tangguh sehingga memaksa The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.






