Beranda / Berita / Triliunan Rupiah Amblas Gara Gara Mobil Listrik

Triliunan Rupiah Amblas Gara Gara Mobil Listrik

Triliunan Rupiah Amblas Gara Gara Mobil Listrik

Industri otomotif global tengah menghadapi badai finansial yang tak terduga. Raksasa sekelas Honda, misalnya, mencatat kerugian tahunan pertamanya sejak 1955, sebuah pukulan telak yang dipicu oleh gelombang koreksi di pasar kendaraan listrik (EV). Menurut laporan jabarpos.id, kondisi ini memaksa banyak pabrikan membukukan penurunan nilai investasi EV yang masif.

Pabrikan asal Jepang itu melaporkan kerugian fantastis mencapai 1,6 triliun yen, setara dengan sekitar Rp177,5 triliun, untuk tahun fiskal yang baru saja berakhir Maret lalu. Angka ini sangat kontras dengan proyeksi awal yang memperkirakan Honda akan meraup laba hingga US$7,4 miliar atau sekitar Rp129,5 triliun. Pada akhirnya, Honda harus menelan pil pahit dengan kerugian bersih sebesar 403,3 miliar yen (Rp44,7 triliun).

Baca juga:  Rahasia BRI Kuasai Pasar Terbongkar, Bos Ungkap Strategi Jitu!
Triliunan Rupiah Amblas Gara Gara Mobil Listrik
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pemicu utama kerugian masif ini adalah pergeseran drastis kebijakan otomotif di Amerika Serikat (AS) selama era pemerintahan Presiden Donald Trump. Pemerintah AS secara mengejutkan mencabut aturan emisi yang ketat dan sekaligus menghapus insentif pajak sebesar US$7.500 (sekitar Rp131,25 juta) yang sebelumnya diberikan kepada pembeli kendaraan listrik.

Dampak dari pencabutan subsidi tersebut terasa langsung. Penjualan EV di AS anjlok drastis sejak September lalu, bahkan kenaikan harga bensin pun tak mampu membangkitkan kembali minat konsumen. Padahal, sebelumnya, banyak pabrikan global telah menggelontorkan investasi triliunan dolar untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik, didorong ekspektasi regulasi emisi yang lebih ketat di bawah pemerintahan Joe Biden. Namun, pembatalan regulasi dan penghapusan ancaman sanksi oleh pemerintahan Trump membuat strategi ini berantakan. Akibatnya, fokus kembali bergeser ke penjualan SUV dan truk berbahan bakar bensin, yang selama ini menjadi mesin keuntungan utama. Penyesuaian ini juga berarti pembukuan penurunan nilai investasi EV yang jumlahnya mencapai miliaran dolar AS.

Baca juga:  Rahasia Warren Buffett: Mengapa Emas Bukan Investasi Favoritnya?

Honda sendiri mengakui masih ada potensi penurunan nilai investasi EV tambahan di tahun fiskal berjalan, meskipun mereka optimistis tidak akan kembali mencatat kerugian tahunan. Fenomena ‘berdarah-darah’ akibat koreksi strategi EV ini tidak hanya menimpa Honda. General Motors (GM) juga melaporkan kerugian US$7,2 miliar (sekitar Rp126 triliun) akibat penyesuaian agresif bisnis EV mereka. Ford bahkan mencatat kerugian lebih besar, mencapai US$17,4 miliar (sekitar Rp304,5 triliun), dan telah memperingatkan kemungkinan biaya tambahan di tahun ini. Sementara itu, Stellantis, konglomerat yang membawahi merek-merek ikonik seperti Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler, membukukan kerugian fantastis sebesar 25,4 miliar euro (setara Rp521,97 triliun).

Baca juga:  Sari Roti Gigit Jari Laba Anjlok, Ada Apa?

Kendati demikian, para produsen otomotif global belum sepenuhnya menyerah pada kendaraan listrik. Mereka masih harus menghadapi regulasi emisi yang semakin ketat di pasar-pasar kunci seperti Eropa dan Asia, serta di beberapa negara bagian AS, termasuk California, yang menargetkan pelarangan penjualan mobil bensin baru mulai tahun 2035. Ini menunjukkan bahwa meskipun jalan menuju elektrifikasi penuh penuh tantangan, komitmen jangka panjang tetap ada.