Beranda / Berita / Masa Depan Perbankan Terungkap di Jogja

Masa Depan Perbankan Terungkap di Jogja

Masa Depan Perbankan Terungkap di Jogja

YOGYAKARTA – Panggung Jogja Financial Festival 2026 menjadi saksi diskusi hangat para pimpinan bank terkemuka di Indonesia. Dalam panel bertajuk "The Bankers," mereka membedah arah perbankan di tengah laju teknologi dan tantangan ekonomi yang terus berkembang. Laporan jabarpos.id mencatat, transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan mutlak bagi industri keuangan.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan urgensi transformasi digital yang tak terhindarkan. "Perkembangan teknologi yang kian pesat menuntut perbankan untuk beradaptasi dan berinovasi," ujarnya. BRI, sebagai salah satu pionir, telah membuktikan komitmennya dengan aplikasi Brimo Mobile Banking yang kini melayani lebih dari 60 juta pengguna. Ia juga mengingatkan kembali evolusi perbankan, dari era Bank 1.0 yang mengandalkan cek dan giro, kemudian Bank 2.0 dengan kemunculan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang beroperasi 24 jam, kini menuju era serba digital yang lebih terintegrasi.

Baca juga:  PDIP dan Demokrat Resmi Usung Dandan-Dadan di Pilwalkot Bandung
Masa Depan Perbankan Terungkap di Jogja
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Beralih ke sektor perumahan, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu, memaparkan peran strategis BTN dalam pembiayaan rumah bagi masyarakat. Hingga saat ini, BTN telah berhasil menyalurkan 6 juta Kredit Pemilikan Rumah (KPR) khusus bagi masyarakat kategori desil 3. Sebagai informasi, desil 3 merujuk pada kelompok masyarakat yang berada di rentang 21-30% tingkat kesejahteraan terendah secara nasional, atau sering dikategorikan sebagai kelompok "hampir miskin" dalam program bantuan pemerintah. Nixon menjelaskan, dua strategi utama BTN dalam menyalurkan kredit perumahan adalah melalui program KPR subsidi dan bantuan pembangunan rumah swadaya bagi masyarakat dengan penghasilan paling rendah.

Dari perspektif syariah, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Anggoro Eko Cahyo, menyoroti potensi perbankan dalam mewujudkan ekonomi yang adil dan berkelanjutan. "Penyaluran pembiayaan dari perbankan dapat menjadi motor penggerak sektor-sektor tertentu, sekaligus menjadi enabler perekonomian secara keseluruhan," ungkap Anggoro. BSI, lanjutnya, berkomitmen mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar pertumbuhannya berkelanjutan, menegaskan bahwa ekonomi bukan hanya tentang profit semata, melainkan juga kebermanfaatan.

Baca juga:  Kisah Tukang Es Ungaran Jadi Miliarder? Sumber Kekayaannya Bikin Melongo!

Meski digitalisasi terus meroket, Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, mengungkapkan fakta menarik: penggunaan uang tunai masih relatif besar. Fenomena ini terjadi seiring dominasi generasi milenial dan Gen Z dalam aktivitas internet nasional. Novita menyebut, sekitar 48-49% transaksi masyarakat kini telah dilakukan melalui internet banking dan mobile banking, sementara uang elektronik berkontribusi sekitar 10%. Namun, transaksi tunai, baik melalui cabang bank maupun mesin ATM, tetap memiliki porsi signifikan, menunjukkan perubahan perilaku transaksi masyarakat yang dinamis seiring meningkatnya dominasi generasi muda dalam penggunaan internet.

Baca juga:  Prabowo Buka Kartu Strategi Ekonomi, Investor Auto Senyum?

Sementara itu, Direktur Treasury & International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Abu Santosa Sudradjat, memaparkan upaya BNI dalam mendorong perekonomian nasional melalui layanan perbankan yang menyeluruh. BNI berperan sebagai jembatan dan penghubung Indonesia dengan investor serta pasar global. BNI juga aktif mendukung 8 juta diaspora di seluruh dunia melalui layanan perbankan, mulai dari saving hingga loan. Tak hanya itu, melalui program Xpora, BNI memberdayakan UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha agar mampu menembus pasar internasional, didukung dengan penguatan digitalisasi untuk memudahkan manajemen keuangan.