Di tengah gejolak ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada pertumbuhan. Presiden Direktur UNVR, Benjie Yap, menyatakan bahwa perseroan akan terus mendorong peningkatan volume dan penjualan, seperti yang diungkapkan dalam laporan jabarpos.id. Pernyataan ini disampaikan dalam Public Expose UNVR di Tangerang pada Kamis (4/6/2026).
Menurut Benjie, Unilever Indonesia akan terus menggenjot penetrasi pasar yang relevan dan menghadirkan inovasi produk bagi konsumen. Ia juga mengisyaratkan adanya penyesuaian harga pada paruh kedua tahun ini sebagai respons terhadap faktor eksternal, termasuk potensi dampak dari proyeksi OECD.
Senada, Direktur Keuangan Unilever Indonesia, Neeraj Lal, mengakui bahwa tahun ini penuh dengan tantangan signifikan. Ia menyoroti inflasi yang tinggi, konflik di Timur Tengah, serta tekanan nilai tukar mata uang yang semakin memberatkan operasional bisnis di Indonesia.
Also Read
Menghadapi berbagai persoalan tersebut, Neeraj memastikan bahwa perusahaan telah menyiapkan strategi komprehensif. Ini mencakup penetapan harga yang terkalibrasi secara cermat, optimalisasi investasi, dan pengelolaan inflasi yang efektif. "Kami memastikan akan fokus pada pertumbuhan dan peningkatan margin," tegas Neeraj.
Neeraj tidak menampik bahwa fluktuasi nilai tukar berdampak langsung pada UNVR, mengingat sebagian bahan baku perusahaan diimpor. Namun, ia meyakinkan bahwa UNVR telah memiliki mekanisme perlindungan nilai (hedging) serta strategi ekspor sebagai penyeimbang untuk memitigasi risiko tersebut.
Sebagai gambaran kinerja, pada tahun 2025, Unilever Indonesia berhasil membukukan penjualan bersih sebesar Rp31,9 triliun dan laba bersih Rp3,5 triliun. Angka ini berasal dari operasi yang dilanjutkan, tidak termasuk kontribusi dari bisnis Es Krim dan Teh SariWangi. Selain itu, perseroan juga telah menetapkan total dividen sebesar Rp201 per saham untuk tahun buku 2025, yang merefleksikan rasio pembayaran 100% dari laba bersih.






