IHSG Melesat Drastis Ada Apa Sebenarnya

Author Image

Endang Wulansari

17 Juni 2026, 21:04 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa impresif, melonjak 17,09% dalam lima hari perdagangan terakhir sejak menyentuh titik terendah pada 8 Juni 2026. Kenaikan signifikan ini memicu optimisme, bahkan mendekati ambang batas konfirmasi bull market di level 6.381,49 jika mencapai 20%. Menurut laporan jabarpos.id, ada beberapa faktor kunci yang menjadi pendorong utama kebangkitan pasar saham Tanah Air.

Salah satu pendorong utama adalah aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) yang gencar dilakukan oleh emiten. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik inisiatif ini, melihatnya sebagai sinyal positif bagi pasar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa komitmen dan rencana buyback yang telah diajukan mulai menunjukkan dampak nyata di pasar.

IHSG Melesat Drastis Ada Apa Sebenarnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Kami mengindikasikan bahwa komitmen dan proposal buyback yang masuk secara bertahap memang sudah mulai terealisasi di pasar," ujar Hasan saat ditemui di gedung DPR RI, Jakarta, pada Selasa (17/6/2026). Ia menambahkan, sentimen ini juga didukung oleh faktor-faktor lain yang memengaruhi persepsi investor terhadap harga saham yang memang sudah mengalami penurunan signifikan.

Kebijakan OJK sejak tahun 2025 yang memperbolehkan emiten melakukan buyback tanpa perlu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) telah mempermudah proses ini, memberikan fleksibilitas lebih bagi perusahaan untuk merespons kondisi pasar. Tercatat, sebanyak 65 emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan rencana buyback dengan total alokasi dana mencapai Rp65,34 triliun. Namun, realisasi dari rencana ambisius ini baru mencapai sekitar 30%, atau setara dengan Rp17,12 triliun, yang berasal dari 64 emiten.

Fleksibilitas ini diatur dalam POJK Nomor 13 Tahun 2023, yang memungkinkan emiten membeli kembali sahamnya hingga 20% dari modal disetor, terutama saat pasar mengalami fluktuasi signifikan. Aksi buyback tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengelolaan struktur permodalan, tetapi juga sebagai sinyal kuat dari manajemen perusahaan mengenai keyakinan terhadap prospek fundamental dan keberlanjutan usaha mereka.

Selain buyback, sentimen positif juga datang dari penyedia indeks global MSCI. Pasar modal Indonesia menanti dua pengumuman penting: hasil MSCI Accessibility Review pada 19 Juni 2026 dan pengumuman MSCI Classification pada 24 Juni 2026. Kedua agenda ini berpotensi menjadi penentu arah pasar saham Tanah Air ke depan, memengaruhi aliran investasi global ke Indonesia.

Hasan Fawzi juga menjelaskan bahwa kebangkitan IHSG turut dipengaruhi oleh persepsi investor yang melihat harga saham-saham terbaik di bursa telah mengalami penurunan signifikan. "Sehingga mungkin investor memiliki konsensus untuk masuk dan mulai mengoleksi saham-saham terbaik yang ada di bursa. Saya lihat mengalami pembalikan ya di 1-2 minggu ini," jelasnya, mengindikasikan adanya pergeseran sentimen pasar.

Dari data alokasi dana buyback yang terpantau, PT Astra International Tbk (ASII) memimpin dengan alokasi maksimal Rp8 triliun. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp5 triliun. Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Jaya Real Property Tbk (JRPT) masing-masing mengalokasikan Rp4 triliun. Daftar ini menunjukkan komitmen emiten-emiten besar dalam mendukung stabilitas pasar.

OJK menegaskan akan terus memantau aktivitas pasar secara cermat untuk memastikan seluruh proses berjalan wajar, efisien, dan transparan, demi menjaga integritas pasar modal Indonesia dan kepercayaan investor.

Related Post