Bank Digital Berani Taruhan Suku Bunga

Author Image

Endang Wulansari

18 Juni 2026, 04:04 WIB

Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga acuannya, memicu respons signifikan dari sektor perbankan, terutama bank digital. Fenomena ini, yang membuat suku bunga deposito bank digital ikut merangkak naik, dinilai wajar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seperti dilansir jabarpos.id.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa keputusan bank digital untuk menaikkan suku bunga deposito adalah langkah yang logis. Menurutnya, bank-bank digital sangat bergantung pada Dana Pihak Ketiga (DPK), yang seringkali merupakan sumber pendanaan dengan biaya tinggi. Mereka juga harus bersaing ketat dengan bank-bank konvensional yang lebih besar dalam menarik simpanan masyarakat.

Bank Digital Berani Taruhan Suku Bunga
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Keberanian bank-bank digital untuk menaikkan suku bunga deposito ini, lanjut Dian, justru mengindikasikan bahwa mereka masih memiliki keyakinan kuat terhadap stabilitas sistem keuangan nasional. "Saya kira mereka sudah mengkalkulasi risikonya. Jika risiko meningkat, mereka tidak akan berani melakukan itu. Ini menunjukkan confidence mereka terhadap sistem masih baik," ujar Dian dalam sebuah kesempatan di Gedung DPR RI.

Dian mengakui adanya potensi peningkatan persaingan di sektor perbankan sebagai dampak dari kenaikan suku bunga acuan. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi pasar likuiditas antarbank sejauh ini masih kondusif dan stabil. "Pasar uang antarbank masih normal, tidak ada lonjakan permintaan yang signifikan. Supply demand masih biasa," tambahnya.

Sebagai informasi, Bank Indonesia telah memutuskan untuk menaikkan BI Rate menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pekan lalu, sebuah langkah antisipatif terhadap tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menanggapi kebijakan tersebut, Komisaris PT Bank Jago Tbk. (ARTO), Anika Faisal, memprediksi bahwa kenaikan BI Rate akan secara bertahap meningkatkan biaya pendanaan atau Cost of Fund (CoF) bagi bank. Meskipun kenaikan bunga deposito bank biasanya mengikuti, Anika menekankan perlunya kajian lebih lanjut. "Ini sudah masuk pada era suku bunga yang akan naik, namun dampaknya mungkin tidak langsung terasa dan perlu dikaji mendalam," jelas Anika.

Sementara itu, PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) memilih strategi penguatan struktur pendanaan untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga bank sentral. Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, mengungkapkan bahwa hingga awal tahun ini, rasio CASA (Current Account Savings Account) di entitas usaha BRI ini menunjukkan tren yang cukup baik. "Struktur CASA yang kuat ini akan menjadi modal penting bagi kami dalam menyikapi perkembangan suku bunga ke depan," kata Kicky.

Dinamika kenaikan suku bunga ini memang menciptakan tantangan sekaligus peluang bagi bank digital untuk menunjukkan ketahanan dan strategi adaptasi mereka di tengah pasar yang semakin kompetitif.

Related Post