Gejolak ekonomi dan geopolitik global kini mulai menunjukkan dampaknya yang signifikan terhadap sektor konstruksi di Indonesia. Pelemahan nilai tukar Rupiah dan kenaikan harga energi, khususnya solar, telah memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) bahkan menyuarakan ‘jeritan’ para pengusaha yang terbebani oleh kondisi ini. Demikian diungkapkan dalam laporan jabarpos.id yang mengutip pernyataan dari Gapensi.
Kondisi ini secara langsung memicu lonjakan biaya produksi. Pelemahan Rupiah membuat harga impor bahan baku melambung, sementara kenaikan harga solar mendongkrak biaya operasional alat berat dan transportasi. Tidak hanya itu, harga material konstruksi secara keseluruhan dilaporkan naik antara 8 hingga 15 persen, semakin mempersempit margin keuntungan dan membebani arus kas perusahaan konstruksi.
Menyikapi situasi genting ini, Gapensi mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Mereka berharap adanya dukungan kuat dari pemerintah untuk menjaga stabilitas proyek-proyek yang sedang berjalan. Salah satu tuntutan utama adalah fleksibilitas aturan, termasuk kemungkinan kenaikan nilai proyek pada kontrak yang sudah berjalan, terutama yang sangat terdampak oleh sentimen kenaikan harga solar. Langkah ini dinilai krusial demi menjaga keberlangsungan bisnis dan mencegah terhentinya proyek-proyek pembangunan infrastruktur nasional.
Also Read
Di tengah desakan tersebut, Gapensi juga menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif pemerintah, khususnya dalam mendorong peran sektor swasta untuk berpartisipasi aktif dalam proyek pembangunan infrastruktur. Penyebaran proyek infrastruktur ke berbagai daerah di Indonesia diharapkan dapat membuka peluang baru dan pemerataan pembangunan. Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal 1 BPP Gapensi, Radinal Efendy, dalam dialog Focus on Infra di CNBC Indonesia pada Jumat, 19 Juni 2026.
Masa depan sektor konstruksi, yang merupakan tulang punggung pembangunan nasional, kini sangat bergantung pada respons cepat dan tepat dari pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci untuk melewati tantangan ekonomi global yang tak terduga ini, demi memastikan roda pembangunan tetap berputar.






