Ponsel Anda Jaminan Pinjaman

Author Image

Endang Wulansari

6 Agustus 2026, 18:04 WIB

Era pinjaman daring (Pindar) telah mengubah lanskap akses keuangan, membuka pintu bagi masyarakat menengah bawah yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pembiayaan. Sebuah inovasi menarik muncul sebagai pengganti skor kredit tradisional: riwayat penggunaan nomor telepon seluler. Menurut laporan jabarpos.id dari Hotel Aryaduta Jakarta, Kamis (6/8/2026), Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, menjelaskan bahwa perusahaan Pindar kini dapat memanfaatkan data alternatif, termasuk data telekomunikasi dan media sosial, untuk menilai kelayakan calon nasabah.

Kuseryansyah memaparkan, sebuah nomor telepon seluler yang telah aktif dan digunakan selama sepuluh tahun secara otomatis memiliki "skor" minimum yang cukup kuat. Ini adalah indikator sederhana namun kuat bahwa individu tersebut eksis dan tidak dikejar-kejar penagih utang, berbeda dengan nomor yang baru aktif beberapa hari yang menimbulkan tanda tanya besar. Metode ini jauh lebih praktis, tidak memerlukan pemeriksaan tabungan atau slip gaji, membuka pintu bagi mereka yang sebelumnya kesulitan mengakses kredit konvensional.

Ponsel Anda Jaminan Pinjaman
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Filosofi di balik pendekatan ini adalah bahwa akses pembiayaan bukan hanya hak eksklusif kelas menengah dan atas, melainkan juga harus merata hingga ke masyarakat lapisan bawah. Indonesia, dengan populasi yang besar, menjadi target pasar terbesar bagi Pindar, sejalan dengan semangat inklusi keuangan yang ingin memastikan semua orang berhak mendapatkan akses pinjaman.

Data menunjukkan, per November 2025, outstanding pembiayaan Pindar mencapai Rp94,85 triliun, tumbuh 25,45% secara tahunan. Angka ini, meski signifikan sebagai pilar pembiayaan non-bank, masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total kebutuhan pembiayaan nasional yang diperkirakan mencapai Rp2.650 triliun. Dengan lembaga keuangan konvensional yang baru mampu menopang sekitar Rp1.000 triliun, terdapat celah pembiayaan sebesar Rp1.650 triliun hingga akhir 2025.

Kesenjangan ini semakin kentara di sektor UMKM. Riset EY MSME Market Study and Policy Advocacy memproyeksikan kebutuhan pembiayaan UMKM pada tahun 2026 dapat menyentuh Rp4.300 triliun, dengan estimasi credit gap mencapai Rp2.400 triliun. Dalam konteks inilah, Pindar dengan inovasi penilaian kredit alternatifnya, memainkan peran krusial dalam menjembatani kesenjangan tersebut dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Related Post