Fakta Mengejutkan Pendiri BCA

Author Image

Endang Wulansari

15 Agustus 2026, 08:04 WIB

Sebuah kisah menarik terungkap dari balik layar kesuksesan salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA). Berawal dari pertemuan tak sengaja di pesawat menuju Hong Kong pada tahun 1975, pendiri Salim Group, Sudono Salim (Liem Sioe Liong), bertemu dengan tokoh perbankan Mochtar Riady. Pertemuan ini bukan hanya mengubah peta keuangan nasional, tetapi juga menyimpan sebuah rahasia unik yang jarang diketahui publik. Menurut laporan jabarpos.id, keputusan besar Salim dalam memilih Mochtar Riady ternyata tidak lepas dari petunjuk mistis seorang peramal.

Kala itu, Sudono Salim tengah mencari sosok profesional bertangan dingin untuk membenahi tiga bank miliknya: Bank Windu Kencana, Bank Dewa Ruci, dan BCA yang masih berskala kecil. Di sisi lain, Mochtar Riady memiliki ambisi besar untuk membangun bank baru. Melihat rekam jejak dan reputasi mumpuni Riady, Salim tanpa ragu menyodorkan tawaran kemitraan strategis. Kesepakatan informal di udara itu menjadi tonggak sejarah, di mana BCA di bawah kepemimpinan Riady serta dukungan modal dan jaringan kuat Salim, berhasil disulap menjadi raksasa perbankan swasta paling tangguh di Indonesia.

Fakta Mengejutkan Pendiri BCA
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, di balik kalkulasi bisnis yang matang, ada dimensi spiritual yang kuat memengaruhi langkah Salim. Buku "Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto" (2016) karya Richard Borsuk dan Nancy Chng mengungkap bahwa keputusan penting Salim ini tidak terlepas dari ritual spiritualnya di Gunung Kawi, Jawa Timur. "Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau ‘aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mochtar’," tulis Borsuk dan Chng dalam bukunya.

Kawasan Gunung Kawi memang tersohor sebagai destinasi spiritual, tempat banyak orang mencari petunjuk atau ramalan. Bagi Sudono Salim, perjalanan tiga jam dari Surabaya ke Gunung Kawi bukanlah hal asing. Ia rutin mengunjungi sebuah kuil Tionghoa di sana, tiga hingga lima kali dalam setahun, untuk berdiam diri dan mencari petunjuk. Sebelum mengeksekusi proyek bisnis raksasa, Salim selalu meminta nasihat peramal melalui ritual khusus. Salah satunya adalah menggoyangkan tabung bambu berisi lidi-lidi bertuliskan pesan tertentu (Ciamsi) hingga sebatang lidi jatuh untuk ditafsirkan oleh rahib. Salim sangat percaya pada nasihat ini, meyakini bahwa mengabaikannya bisa memicu keputusan keliru yang berujung pada kerugian fatal.

Keyakinan pada prinsip mistis dan perhitungan feng shui tidak hanya berlaku saat memilih mitra bisnis, tetapi juga dalam menentukan lokasi dan bangunan usaha. Kisah menarik terjadi pada tahun 1968, ketika Salim bersama konglomerasi "Gang of Four" (beranggotakan Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad) hendak memulai bisnis. Alih-alih menyewa kantor megah dan nyaman, Salim justru bersikeras memilih ruangan yang amat sempit, hanya berisi satu meja, dua kursi, satu telepon, serta tanpa pendingin udara (AC). Baginya, ruangan bersahaja itu memiliki aliran feng shui yang sangat kuat dan diyakini membawa keberuntungan. Keyakinan ini terbukti, bisnis "Gang of Four" melesat tajam, menjadi fondasi utama imperium bisnis Salim Group hingga kini.

Perpaduan antara intuisi bisnis yang tajam, eksekusi profesional, serta kepercayaan mendalam pada kearifan lokal dan feng shui, pada akhirnya menjadi ciri khas dalam perjalanan Sudono Salim membangun salah satu kerajaan bisnis terbesar dalam sejarah Indonesia. Sebuah warisan yang tidak hanya dibangun di atas perhitungan logis, tetapi juga diwarnai oleh "petunjuk" dari dunia yang tak terlihat.

Related Post