PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah mempersiapkan langkah strategis ambisius dengan mengalokasikan belanja modal (capex) fantastis mencapai US$1,1 miliar, atau setara dengan Rp19,29 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.540), yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2027. Informasi ini berhasil dihimpun oleh jabarpos.id dari paparan publik perusahaan, menandai periode ekspansi terbesar dalam sejarah perseroan.
Direktur Vale Indonesia, Rizky Andhika Putra, menjelaskan bahwa periode 2027 akan menjadi puncak dari seluruh rencana ekspansi perseroan. Investasi jumbo ini akan difokuskan pada pembangunan smelter-smelter baru, khususnya proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL), serta pengembangan tambang dan kebutuhan capex berkelanjutan lainnya.
Meskipun perseroan telah mengamankan fasilitas pendanaan siaga berupa sustainability linked loan senilai US$750 juta, Rizky tidak menutup kemungkinan untuk mencari tambahan pendanaan guna membiayai seluruh rencana ekspansi yang masif ini. Kebutuhan capex pada tahun 2026 diperkirakan mencapai hampir US$700 juta, dan berlanjut dengan sekitar US$800 juta pada tahun 2028, terutama untuk mendukung pengembangan proyek HPAL di Sorowako.
Also Read
Di sisi operasional, Vale juga menunjukkan optimisme tinggi terhadap kinerja. Perusahaan tambang nikel ini menargetkan produksi nickel matte sebesar 67.645 metrik ton pada tahun 2026. Keyakinan ini didukung oleh capaian produksi semester I-2026 yang berhasil melampaui rencana sekitar 1%.
Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia, Abu Ashar, membeberkan beberapa faktor pendorong optimisme tersebut. Salah satunya adalah selesainya perbaikan tungku listrik nomor 3 pada Juni 2026, yang menjamin stabilitas operasi di paruh kedua tahun ini. "Perbaikan tungku listrik nomor 3 telah selesai pada Juni 2026 sehingga mendukung stabilitas operasi pada semester II-2026," ujar Abu.
Lebih lanjut, Abu menyoroti kualitas kadar nikel dari aktivitas pertambangan yang mencapai 1,82%. Angka ini disebut sebagai salah satu yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kadar nikel yang lebih tinggi ini sangat menguntungkan, karena pabrik dapat menghasilkan output yang sama tanpa perlu mengolah volume material yang lebih besar.
Dengan pasokan bijih yang berkualitas baik serta operasi pabrik yang stabil, perseroan sangat optimistis dapat memaksimalkan produksi nickel matte di sisa tahun ini. "Kami sangat optimis, pekerjaan perbaikan sudah dilakukan, kadar nickel feeding dari mining ke pabrik cukup bagus, operasi di pabrik juga cukup stabil, sehingga kami optimis di tahun ini untuk mencapai target produksi tahunan 67.645 metric ton," pungkas Abu Ashar, menegaskan komitmen perusahaan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.






