Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan sesi pertama di Bursa Efek Indonesia, Rabu (30/09/2026). Berdasarkan pantauan pasar, indeks mengalami penguatan sebesar 0,5 persen dan berhasil menyentuh level 6.152 pada pukul 10:03 WIB. Tren hijau ini memberikan sinyal optimisme bagi para investor di tengah dinamika pasar global yang sedang fluktuatif.
Sejalan dengan penguatan indeks saham, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga menunjukkan pergerakan yang menjanjikan. Mata uang Garuda tercatat menguat 0,45 persen ke posisi Rp 17.880 per Dolar AS. Penguatan ganda antara IHSG dan Rupiah ini memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal dari pasar keuangan internasional.
Kenaikan di pasar modal ini tidak lepas dari sentimen positif yang datang dari sektor komoditas global. Salah satu penggerak utama adalah harga minyak mentah dunia yang kembali menunjukkan tren kenaikan. Saat ini, harga minyak mentah dunia terpantau masih bertahan kokoh di kisaran USD 96 per barel. Meskipun terdapat upaya pemulihan pasokan dari kawasan Timur Tengah, permintaan pasar yang tetap tinggi tampaknya masih menjadi faktor penentu yang menjaga harga minyak tetap berada di level premium.
Also Read
Tak hanya minyak mentah, sektor energi lainnya juga menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Harga batu bara dilaporkan masih bertahan di level yang tinggi. Kondisi ini memberikan dampak positif bagi emiten-emiten sektor energi yang melantai di bursa, yang pada gilirannya turut menyokong kenaikan IHSG. Stabilitas harga batu bara ini menjadi indikator penting bagi para pelaku pasar dalam memprediksi pergerakan saham-saham berbasis komoditas energi dalam jangka pendek.
Selain energi, sektor logam mulia juga tidak ketinggalan dalam tren penguatan ini. Harga emas dunia masih menunjukkan tren positif dan berada pada level tinggi. Fenomena ini sering kali dianggap sebagai indikator safe haven, di mana investor cenderung mengalihkan aset mereka ke emas ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi atau fluktuasi harga komoditas lainnya.
Secara keseluruhan, kombinasi antara penguatan harga minyak, batu bara, dan emas menciptakan momentum yang mendukung geliat pasar saham di Indonesia. Analis pasar melihat bahwa stabilitas harga komoditas ini menjadi katalis penting bagi kepercayaan investor untuk tetap menempatkan modalnya di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Para pelaku pasar kini tengah memantau perkembangan lebih lanjut mengenai kebijakan pasokan di Timur Tengah dan dinamika ekonomi global lainnya yang dapat memengaruhi arah harga minyak dan batu bara ke depan. Pergerakan IHSG di sesi berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana sentimen komoditas ini terjaga serta stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap mata uang utama dunia. Melansir ulasan dari Mercy Widjaja dalam program Profit, situasi pasar saat ini menuntut kewaspadaan sekaligus ketelitian dalam mengambil keputusan investasi.






