Jabarpos.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) tengah menyiapkan langkah besar dalam peta jalan energi terbarukan di Indonesia. Perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor panas bumi ini sedang mematangkan rencana ambisius untuk membangun green data center atau pusat data berbasis energi panas bumi. Proyek ini diprediksi akan menjadi terobosan baru dalam industri teknologi yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan ramah lingkungan.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan kajian mendalam terkait aspek komersial dan regulasi. Langkah ini diambil setelah studi teknologi untuk proyek percontohan (pilot project) di lapangan panas bumi Kamojang, Jawa Barat, dinyatakan telah selesai dan dinyatakan berhasil.
"Secara studi teknologi sudah kami jalankan dan hasilnya sudah pasti. Saat ini kami sedang masuk ke tahap pengkajian mengenai sisi komersialitas serta bagaimana regulasi yang akan menaunginya," ujar Yani dalam sebuah pertemuan media di Jakarta Pusat.
Also Read
Proyek di Kamojang ini dirancang sebagai pembuktian konsep (proof of concept) untuk menunjukkan bahwa sebuah pusat data dapat beroperasi secara penuh hanya dengan mengandalkan listrik dari energi panas bumi. Hal yang membuat proyek ini istimewa adalah model kemandirian energinya. Jika biasanya pusat data bergantung pada jaringan listrik nasional (PLN), PGE berencana mengembangkan model independen di mana listrik dialirkan langsung dari sumber panas bumi ke pusat data tanpa melalui perantara jaringan lain.
"Kami menargetkan ini menjadi green data center berbasis panas bumi pertama di dunia yang tidak terkoneksi dengan sumber listrik lain," tambah Yani dengan optimis.
Untuk tahap awal, proyek percontohan di Kamojang ini akan mengusung kapasitas listrik sebesar 5 megawatt (MW). Keberhasilan proyek ini nantinya akan dijadikan standar atau acuan untuk pengembangan pusat data serupa di wilayah kerja PGE lainnya di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Direktur Eksplorasi PGE, Edwil Suzandi, menjelaskan bahwa perusahaan sedang mengurus berbagai perizinan teknis, termasuk revisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Hal ini dikarenakan adanya perubahan model bisnis dari sekadar operasional panas bumi menjadi penyediaan listrik untuk elektrifikasi pusat data.
Selain masalah izin, PGE juga tengah menghitung dampak distribusi listrik tersebut agar tidak mengganggu pasokan listrik yang selama ini telah disalurkan kepada PLN. PGE menargetkan seluruh kajian ini rampung pada akhir tahun ini atau paling lambat pada kuartal pertama tahun 2027.
Edwil menekankan bahwa kunci utama keberhasilan proyek ini terletak pada kepastian pembeli atau offtaker. Saat ini, manajemen PGE dilaporkan tengah melakukan diskusi intensif dengan sejumlah pemain besar di industri pusat data untuk menjajaki potensi kerja sama.
"Kami sedang berdiskusi intens dengan para pemain industri data center untuk menjadi pembeli listrik kami jika proyek ini terealisasi," tutur Edwil.
Jika rencana ini berjalan mulus, Indonesia akan memiliki ekosistem pusat data pertama yang menggunakan energi bersih secara langsung dari sumber pembangkitnya, menciptakan standar baru dalam industri teknologi hijau global.






