Beranda / Berita / Bukan Sekadar Makan Gratis Ini Jurus Ekonomi Prabowo

Bukan Sekadar Makan Gratis Ini Jurus Ekonomi Prabowo

Bukan Sekadar Makan Gratis Ini Jurus Ekonomi Prabowo

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan arah kebijakan dan strategi perekonomian yang diusung Presiden terpilih Prabowo Subianto. Purbaya menegaskan, pendekatan ekonomi ini jauh melampaui program Makan Bergizi Gratis (MBG) semata. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Jogjakarta Financial Festival di Jogja Expo Centre (JEC) pada Jumat (21/5/2026), seperti dilansir jabarpos.id. Ia menjawab pertanyaan krusial dari Founder CT Corp, Chairul Tanjung, mengenai upaya pemerintah mengendalikan defisit fiskal.

"Banyak pihak mungkin belum sepenuhnya memahami langkah-langkah yang diambil oleh Pak Prabowo. Apakah beliau hanya fokus pada MBG? Tentu tidak," ujar Purbaya. Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo juga secara aktif mendorong dan menggerakkan sektor swasta sebagai pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga:  Pembantu Prabowo Dalam Menjaga Barisan Dalam Kabinet
Bukan Sekadar Makan Gratis Ini Jurus Ekonomi Prabowo
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pemerintah, lanjut Purbaya, berupaya keras memastikan belanja negara tetap berjalan optimal sekaligus menjaga ketersediaan likuiditas yang memadai dalam sistem perekonomian. Dengan demikian, perputaran uang yang sehat diharapkan mampu menghidupkan sektor swasta, menciptakan sinergi antara mesin ekonomi pemerintah dan swasta. "Ini adalah arah yang akan kita jalankan ke depannya," tegasnya.

Purbaya kemudian berbagi pengalaman saat awal menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia mendapati adanya gangguan pada stabilitas keuangan negara. Untuk mengatasi hal tersebut, ia meminta izin kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memindahkan dana APBN sebesar Rp 200 triliun ke dalam sistem perbankan. Tak hanya itu, ia juga "memaksa" perbankan untuk segera menyalurkan dana tersebut ke masyarakat dan dunia usaha.

Baca juga:  Trump Kejutkan Dunia, India Kena Tarif Baru

"Jika tidak disalurkan, mereka (bank) harus membayar bunga kepada saya, tentu itu akan merugikan mereka," jelas Purbaya, menggambarkan strategi untuk mendorong perbankan agar lebih agresif dalam menyalurkan kredit dan menjaga roda ekonomi berputar.

Berkat kebijakan proaktif ini, defisit fiskal pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 0,93% dari PDB. Purbaya menjelaskan bahwa angka ini terjadi karena sebagian besar belanja pemerintah ditarik dan direalisasikan pada awal tahun, sebuah strategi untuk mempercepat perputaran ekonomi.

Memasuki kuartal II-2026, kondisi defisit mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Pada April 2026, defisit APBN berhasil ditekan hingga 0,64% terhadap PDB. Purbaya menambahkan, penurunan defisit ini juga didukung oleh perbaikan penerimaan perpajakan. Hal ini tidak terlepas dari serangkaian reformasi yang telah dilakukan di sektor perpajakan dan bea cukai.

Baca juga:  OJK Ungkap Strategi Rahasia Pemilihan Nakhoda Baru?

"Pada Maret, defisit kita 0,93%. Banyak pengamat memprediksi angka ini bisa mencapai 3,6%. Namun, berkat penerimaan pajak yang membaik dan reformasi perpajakan serta bea cukai yang kami lakukan, defisit kita di April hanya tersisa 0,64%," ungkap Purbaya. Ia menambahkan bahwa keseimbangan primer kini sudah positif, menandakan bahwa "fiskal kita sudah berkesinambungan."