Pendapatan TGUK Meroket BEI Bertanya Tanya

Author Image

Endang Wulansari

15 Juli 2026, 08:04 WIB

Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi meminta klarifikasi dari PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), emiten yang sebelumnya dikenal menaungi gerai minuman Teguk. Permintaan penjelasan ini muncul setelah perseroan membukukan lonjakan pendapatan yang mencengangkan, mencapai sekitar 27.545% pada kuartal pertama tahun 2026, demikian dilaporkan jabarpos.id.

Data menunjukkan, TGUK berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp200,7 miliar per 31 Maret 2026. Angka ini melonjak drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana penjualan hanya mencapai Rp726 juta. Perbedaan yang sangat signifikan ini tentu menarik perhatian otoritas bursa.

Pendapatan TGUK Meroket BEI Bertanya Tanya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Manajemen TGUK menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan yang luar biasa ini terutama dipicu oleh dimulainya operasional lini usaha perdagangan daging beku (frozen meat). Lini bisnis baru ini telah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta didukung oleh penambahan kegiatan usaha dalam Anggaran Dasar Perseroan.

Sebagian besar transaksi penjualan daging beku dilakukan melalui jaringan agen dan distributor, atau yang dikenal sebagai general trade. Skema penjualan ini mengandalkan sistem pemesanan (purchase order) dan kesepakatan harga saat transaksi, sehingga umumnya tidak memerlukan kontrak kerja sama jangka panjang. Pendekatan ini dipilih karena harga daging beku sebagai komoditas sangat fluktuatif, membutuhkan fleksibilitas dalam penetapan harga. Hingga kini, TGUK belum menjalin kerja sama dengan pasar modern yang biasanya menerapkan kontrak jangka panjang.

Selain itu, peningkatan penjualan pada periode Januari hingga Maret 2026 juga didukung oleh tingginya permintaan daging selama bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Periode ini merupakan musim puncak bagi industri perdagangan daging, di mana kebutuhan masyarakat, pelaku usaha makanan dan minuman, hingga distributor meningkat tajam dibandingkan periode normal.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut, TGUK menyatakan telah menyiapkan persediaan yang memadai dan memperkuat jaringan distribusi. Langkah ini diklaim mampu mengoptimalkan penjualan selama periode krusial tersebut. Perseroan juga menilai kenaikan penjualan pada kuartal I-2026 ini sebagai dampak faktor musiman yang lazim terjadi pada bisnis perdagangan daging menjelang hari besar keagamaan.

Namun, di balik lonjakan pendapatan yang fantastis ini, kinerja TGUK sebelumnya sempat diwarnai tantangan serius. Pada tahun 2024, perseroan menutup 126 gerai di tengah penurunan kinerja usaha yang signifikan. Kondisi ini berujung pada kerugian bersih sebesar Rp81,27 miliar pada Desember 2024, berbalik dari laba Rp5,79 miliar pada Desember 2023.

Tak hanya itu, perseroan juga mencatat penghapusan persediaan bahan baku senilai Rp21,4 miliar akibat barang rusak dan kedaluwarsa. Manajemen menjelaskan, dari persediaan bahan baku senilai Rp22,5 miliar per September 2024, hanya tersisa Rp1,1 miliar per 31 Desember 2024. Kerusakan dan kedaluwarsa ini disebut-sebut akibat penurunan bisnis perusahaan dan penutupan gerai.

Dengan latar belakang kinerja yang fluktuatif ini, permintaan klarifikasi dari BEI menjadi krusial untuk memastikan transparansi dan kejelasan informasi bagi investor. Publik menanti penjelasan lebih lanjut dari TGUK terkait keberlanjutan performa cemerlang ini.

Related Post