Terkuak Perang Bunga di Depan Mata

Author Image

Endang Wulansari

21 Juli 2026, 21:04 WIB

Kondisi likuiditas perbankan di Indonesia saat ini disebut semakin ketat, memicu kekhawatiran serius akan terjadinya "perang bunga" yang berpotensi mencekik masyarakat. Informasi ini dihimpun jabarpos.id dari analisis sejumlah ekonom terkemuka, yang menyoroti tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebagai pemicu utama. Jika perang bunga ini benar-benar pecah, dampaknya bisa meluas, memengaruhi biaya pinjaman dan stabilitas keuangan.

M. Rizal Taufikurahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyoroti ketatnya likuiditas, khususnya pada Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II dan III. Situasi ini, menurut Rizal, memicu persaingan sengit antar bank dalam menghimpun dana masyarakat, yang berpotensi besar memicu "perang suku bunga deposito".

Terkuak Perang Bunga di Depan Mata
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Rizal menjelaskan, jika skenario perang bunga ini terjadi, biaya dana (cost of fund) bagi perbankan akan melonjak signifikan. Hal ini pada gilirannya akan menekan margin bunga bersih (NIM) bank dan mempersempit ruang bagi bank-bank, terutama KBMI II dan III yang memiliki basis dana murah (CASA) terbatas, untuk menurunkan suku bunga kredit. Kondisi ini tentu merugikan sektor riil dan masyarakat yang bergantung pada fasilitas kredit. Oleh karena itu, Rizal menekankan pentingnya pemerintah dan otoritas moneter untuk tidak hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga memastikan likuiditas perbankan tetap memadai agar fungsi intermediasi tidak terganggu.

Namun, pandangan sedikit berbeda disampaikan oleh Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata. Menurut Josua, permasalahan utama perbankan saat ini bukanlah kekurangan likuiditas secara keseluruhan, melainkan distribusi likuiditas yang belum merata antar-bank. Bank-bank besar (KBMI IV) cenderung memiliki posisi yang lebih kuat berkat basis dana murah dan ekosistem transaksi yang lebih luas. Sebaliknya, bank-bank menengah (KBMI II-III) lebih sensitif terhadap perpindahan dana dari deposan besar.

Josua mengakui bahwa indikasi perang bunga memang mulai muncul, namun sifatnya masih selektif dan belum meluas menjadi perang bunga besar di seluruh industri. Data simpanan per KBMI per Mei 2026 menunjukkan konsentrasi dana yang sangat tinggi di bank besar, dengan KBMI IV mencatat Rp5.550,8 triliun, jauh melampaui KBMI I, KBMI II, dan KBMI III. Dalam kondisi suku bunga acuan yang terus naik, serta daya tarik instrumen seperti SRBI dan SBN ritel yang menawarkan kupon tinggi, bank menengah terpaksa menawarkan bunga yang lebih kompetitif demi mempertahankan dana mereka.

Fenomena ini berpotensi menciptakan dilema bagi masyarakat. Di satu sisi, deposan mungkin diuntungkan dengan tawaran bunga deposito yang lebih tinggi. Namun, di sisi lain, masyarakat yang membutuhkan pinjaman, baik untuk konsumsi maupun modal usaha, bisa terbebani oleh suku bunga kredit yang sulit turun atau bahkan berpotensi naik. Otoritas moneter dan perbankan dituntut untuk cermat mengelola situasi ini demi menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi.

Related Post