IHSG Meroket Tajam Apa Pemicunya

Author Image

Endang Wulansari

21 Juli 2026, 12:04 WIB

Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan performa impresif pada Selasa, 21 Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan tren penguatan, bahkan menembus level psikologis krusial 6.300. Hingga sekitar pukul 11.45 WIB, IHSG melonjak signifikan 1,18% atau setara 73,82 poin, mencapai posisi 6.305,60. Fenomena ini, menurut laporan jabarpos.id, dipicu oleh sejumlah sentimen positif yang menyelimuti pasar.

Kenaikan indeks didukung oleh aksi beli yang masif dan merata di berbagai sektor. Data menunjukkan, sebanyak 400 saham mengalami penguatan, sementara 248 saham melemah, dan 317 saham lainnya bergerak stagnan. Total nilai transaksi harian mencapai angka fantastis sekitar Rp10,28 triliun, dengan volume perdagangan yang menyentuh 27,39 miliar saham. Ini mengindikasikan partisipasi investor yang sangat aktif.

IHSG Meroket Tajam Apa Pemicunya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari sisi sektoral, properti menjadi primadona dengan kenaikan paling mencolok, mencapai 5,46%. Disusul kemudian oleh sektor bahan baku yang menguat 2,08%, energi 2,05%, utilitas 1,99%, dan teknologi 1,05%. Hanya sektor kesehatan yang tercatat berada di zona merah, terkoreksi 1,28%.

Beberapa saham menjadi lokomotif utama penguatan IHSG. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memberikan kontribusi terbesar dengan sekitar 10,13 poin terhadap kenaikan indeks. Diikuti oleh PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) dengan 6,43 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 5,85 poin, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 5,16 poin, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan 2,95 poin. Sementara itu, beberapa saham seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT MD Entertainment Tbk (FILM) menjadi pemberat, namun dampaknya tidak terlalu signifikan.

Reli IHSG ini tak lepas dari optimisme investor domestik. Pasar menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan digelar pekan ini. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang akomodatif menjadi salah satu pendorong utama.

Katalis positif lainnya datang dari lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings. Mereka secara resmi mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Keputusan ini memberikan sinyal kepercayaan kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia di mata investor global.

S&P menilai bahwa tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia, yang sempat diakibatkan oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian kebijakan, hanyalah bersifat sementara. Lembaga tersebut memproyeksikan perbaikan kondisi seiring potensi pemulihan harga komoditas dan komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal.

Meskipun demikian, pelaku pasar tetap waspada terhadap beberapa faktor risiko. Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan harga minyak global, serta penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury, masih menjadi perhatian. Faktor-faktor eksternal ini berpotensi mempengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Related Post