Asing Borong Saham Ini Diam Diam

Author Image

Endang Wulansari

27 Juli 2026, 08:04 WIB

Jakarta – Meskipun investor asing kembali mencatat aksi jual bersih (net sell) yang cukup besar, mencapai Rp3,38 triliun, sepanjang periode perdagangan 20-24 Juli 2026, mereka rupanya masih aktif mengumpulkan sejumlah saham pilihan. Data yang dihimpun jabarpos.id menunjukkan adanya pola akumulasi selektif di tengah gejolak pasar.

PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) menjadi primadona dengan nilai beli bersih asing terbesar selama sepekan, yakni mencapai Rp295,7 miliar. Perlu dicatat, transaksi signifikan ini dilakukan melalui pasar negosiasi. Posisi berikutnya ditempati oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang menarik dana asing sebesar Rp290,5 miliar, disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan akumulasi senilai Rp209,3 miliar.

Asing Borong Saham Ini Diam Diam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Selain ketiga emiten tersebut, investor asing juga terlihat memborong saham-saham lain. Di antaranya, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) dengan net buy asing Rp100 miliar, PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp95,1 miliar, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) Rp87,8 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp67 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp60 miliar, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp57,4 miliar, serta PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Rp56,5 miliar.

Aksi jual bersih asing secara keseluruhan ini berbanding terbalik dari kondisi pekan sebelumnya yang sempat mencatat net buy Rp442,05 miliar. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran sentimen atau strategi dari investor global dalam waktu singkat.

Di tengah dinamika tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menunjukkan penguatan tipis 0,34%, ditutup di level 6.196,43 pada akhir pekan. Kenaikan indeks ini didukung oleh peningkatan aktivitas perdagangan yang cukup signifikan. Rata-rata nilai transaksi harian melonjak 41,21% menjadi Rp19,76 triliun, sementara rata-rata volume transaksi harian naik 66,88% menjadi 43,68 miliar saham.

Namun, penguatan IHSG yang terlihat ini tidak serta-merta mencerminkan kondisi pasar yang sepenuhnya solid. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), secara jumlah saham, terdapat 385 emiten yang melemah, lebih banyak dibandingkan 351 saham yang menguat, sementara 229 saham ditutup stagnan.

Lebih lanjut, jika dilihat dari kapitalisasi pasar, sekitar 54% kapitalisasi pasar berasal dari saham-saham yang terkoreksi, sedangkan saham yang menguat hanya mewakili 40%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan IHSG lebih banyak ditopang oleh performa positif segelintir saham tertentu, sementara tekanan jual masih mendominasi sebagian besar emiten, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar. Ini menunjukkan bahwa pasar bergerak secara selektif, dengan investor asing memilih "mutiara" di tengah lautan penjualan.

Related Post