Dolar Jadi Magnet Baru Warga RI

Author Image

Endang Wulansari

30 Juli 2026, 18:04 WIB

Fenomena menarik tengah terjadi di sektor keuangan Indonesia. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang dihimpun jabarpos.id menunjukkan lonjakan signifikan pada rekening tabungan dolar Amerika Serikat (AS). Per Juni 2026, jumlah rekening dolar AS meroket hingga 185,5% secara tahunan (year-on-year), sebuah indikasi kuat preferensi masyarakat terhadap mata uang Paman Sam di tengah gejolak ekonomi.

Tak hanya jumlah rekening, nilai nominal tabungan dalam mata uang asing (valas) secara keseluruhan juga mengalami pertumbuhan dua digit. Total simpanan valas kini mencapai angka fantastis Rp1.741,46 triliun, meningkat 19,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dolar Jadi Magnet Baru Warga RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut Winang Budoyo, Chief Economist Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), tren ini tak lepas dari upaya masyarakat mencari ‘safe haven’ atau aset lindung nilai. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendorong para penabung untuk mengamankan aset mereka. "Ketika rupiah melemah, secara naluriah masyarakat cenderung mencari keamanan finansial dengan mengalihkan dananya ke dalam bentuk dolar," jelas Winang dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Winang menambahkan, fenomena ini bukan berarti terjadi peningkatan perputaran uang secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa ini lebih kepada konversi jenis mata uang. "Perputaran uang masyarakat pada dasarnya tetap stabil, namun ada pergeseran signifikan dari rupiah ke dolar, semata-mata demi menjaga nilai dan keamanan aset mereka," imbuhnya.

Tren serupa sebelumnya juga disoroti oleh Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Anggito Abimanyu. Ia mengindikasikan bahwa lonjakan pertumbuhan rekening dolar AS sebagian besar disumbang oleh simpanan dengan nominal di atas Rp5 miliar. "Terjadi peningkatan pada rekening-rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar. Ini menunjukkan adanya ‘naik kelas’ pada jumlah simpanan tersebut," ungkap Anggito dalam sebuah acara di Perbanas Institute Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Menariknya, Winang Budoyo lebih lanjut menganalisis bahwa lonjakan pertumbuhan rekening dolar AS yang mencapai lebih dari 180% yoy ini mayoritas didorong oleh nasabah ritel atau perorangan. Ini sekaligus menjelaskan mengapa pertumbuhan jumlah rekening jauh lebih pesat dibandingkan pertumbuhan nilai nominalnya. "Secara logis, penambahan akun dolar AS paling banyak berasal dari segmen perorangan. Simpanan individu tentu lebih terbatas dibandingkan korporasi, yang sebagian besar memang sudah memiliki rekening dolar. Jadi, saya berkeyakinan bahwa pertumbuhan masif ini datang dari sektor ritel atau perseorangan," paparnya.

Fenomena ini menggarisbawahi bagaimana masyarakat Indonesia merespons dinamika ekonomi global dan domestik, dengan dolar AS kini menjadi pilihan utama untuk menjaga stabilitas nilai aset mereka.

Related Post