PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) melaporkan penurunan signifikan pada laba bersihnya untuk periode semester I tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun jabarpos.id, laba tahun berjalan emiten ritel tersebut anjlok 11,05%, menjadi Rp204,9 miliar dari sebelumnya Rp230,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini menjadi sorotan utama di tengah upaya perusahaan menghadapi dinamika pasar yang kian menantang.
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), koreksi laba ini tak lepas dari melorotnya pendapatan RALS. Total pendapatan tercatat sebesar Rp1,31 triliun, turun 12,65% dibandingkan Rp1,50 triliun pada semester I tahun sebelumnya. Penurunan ini didominasi oleh berkurangnya penjualan barang beli putus yang terkoreksi 15,42% menjadi Rp928,9 miliar, dari Rp1,1 triliun. Tak hanya itu, pendapatan dari komisi penjualan konsinyasi juga ikut tergerus 5,13% menjadi Rp383,9 miliar, dibandingkan Rp404,7 miliar.
Meski pendapatan menurun, manajemen RALS berhasil melakukan efisiensi pada beberapa pos beban. Beban pokok penjualan barang beli putus misalnya, berhasil ditekan 16,62% menjadi Rp590,1 miliar, dari Rp707,7 miliar. Upaya ini sedikit meredam dampak penurunan pendapatan, sehingga laba bruto hanya terkoreksi lebih terbatas, yakni 9,12% menjadi Rp722,7 miliar, dari Rp795,2 miliar.
Also Read
Efisiensi juga terlihat pada beban penjualan yang turun 29,64% menjadi Rp43,2 miliar dari Rp61,4 miliar. Beban umum dan administrasi juga menyusut 3,52% menjadi Rp559,5 miliar, dibandingkan Rp580,01 miliar. Menariknya, di tengah tantangan ini, pendapatan lainnya justru melonjak signifikan 37,29% menjadi Rp84,7 miliar, dari Rp61,7 miliar. Beban lainnya bahkan menyusut drastis 94,62%, dari Rp1,5 miliar menjadi hanya Rp85 juta.
Namun, serangkaian dinamika tersebut berujung pada laba usaha Ramayana yang tercatat Rp204,6 miliar, turun 4,37% dari Rp213,9 miliar pada semester I tahun lalu. Pendapatan keuangan juga mengalami penurunan 24,48% menjadi Rp50,5 miliar, sementara biaya keuangan justru meningkat 18,74% menjadi Rp16,7 miliar. Akibatnya, laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp238,4 miliar, terkoreksi 10,64% dari Rp266,8 miliar. Beban pajak penghasilan neto juga turun 8,04% menjadi Rp33,5 miliar.
Gambaran yang lebih kompleks terlihat pada rugi komprehensif lain setelah pajak yang mencapai Rp20,3 miliar. Angka ini berbalik dari posisi laba komprehensif Rp8,02 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perubahan ini dipicu oleh kerugian dari perubahan nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual yang mencapai Rp26,1 miliar, dibandingkan keuntungan Rp10,2 miliar sebelumnya. Kondisi ini membuat total laba komprehensif tahun berjalan RALS turun lebih dalam, yakni 22,60%, menjadi Rp184,5 miliar. Imbasnya, total aset RALS hingga semester I tahun ini juga menyusut menjadi Rp4,5 triliun dari Rp4,7 triliun pada akhir tahun sebelumnya.






