Pasar keuangan Amerika Serikat (AS) kembali dilanda gejolak, di mana euforia seputar Akal Imitasi (AI) tak lagi menjadi jaminan pasti bagi kenaikan harga saham. Situasi ini diperparah oleh tekanan signifikan dari pasar obligasi, menyusul sinyal terbaru dari Federal Reserve (The Fed) yang memicu aksi jual besar-besaran. Demikian dilaporkan jabarpos.id, menyoroti dinamika kompleks yang kini membayangi Wall Street.
Laporan keuangan kuartalan dari raksasa teknologi menunjukkan hasil yang kontras. Microsoft berhasil mencetak rekor kenaikan kapitalisasi pasar harian terbesar dalam sejarah korporasi AS, melesat 16% dan menambah nilai sekitar US$450 miliar. Namun, Apple justru mencatat penurunan harian terburuknya sejak era gejolak tarif, anjlok 7,4% setelah proyeksi pendapatan kuartal berikutnya mengecewakan ekspektasi pasar.
Meskipun banyak perusahaan terus menggelontorkan investasi besar untuk infrastruktur AI, optimisme pasar terhadap sektor ini mulai goyah. Victoria Fernandez, Chief Market Strategist dari Crossmark Global Investments, mengungkapkan bahwa investor kini menuntut bukti konkret dari investasi AI, bukan sekadar janji pertumbuhan. "Pelaku pasar semakin selektif dalam menilai prospek perusahaan, khususnya emiten yang menggelontorkan investasi besar untuk AI," ujarnya.
Also Read
Respons investor yang berbeda ini tercermin dari kinerja saham teknologi lainnya. Amazon melonjak sekitar 15% berkat pertumbuhan pesat bisnis komputasi awannya, sementara Meta Platforms merosot 8% setelah proyeksi arus kas bebasnya diperkirakan negatif pada paruh kedua tahun ini.
Tekanan pasar juga berasal dari pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, usai rapat kebijakan moneter. Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga, isyarat Warsh bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mungkin tidak diperlukan karena kenaikan imbal hasil obligasi sudah membantu mengetatkan kondisi keuangan, justru memicu reaksi negatif. Pernyataan ini memicu aksi jual besar-besaran, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir, menandakan keraguan investor terhadap komitmen The Fed dalam mengendalikan inflasi.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun juga melonjak ke level tertinggi dalam 18 bulan, memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga acuan di masa mendatang. Kenaikan imbal hasil ini, jika berkelanjutan, berpotensi menaikkan biaya pendanaan bagi bisnis dan konsumen, memperlambat aktivitas ekonomi, dan menekan pasar saham. Warsh juga dikabarkan mempertimbangkan pengurangan frekuensi rapat kebijakan moneter, sebuah langkah yang akan mengubah dinamika pasar secara signifikan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga minyak juga menambah daftar kekhawatiran inflasi.
Secara keseluruhan, indeks-indeks utama Wall Street menunjukkan pergerakan yang beragam sepanjang Juli. Nasdaq terkoreksi 3,2%, sementara Dow Jones Industrial Average sedikit menguat dan S&P 500 cenderung datar. Namun, pergerakan yang tampak stabil ini dinilai menutupi volatilitas signifikan di tingkat sektoral, terutama pada saham-saham teknologi.
Kendati demikian, tidak semua berita buruk. Belanja besar-besaran untuk AI oleh perusahaan-perusahaan besar tetap menjadi angin segar bagi produsen chip dan pemasok memori. Indeks PHLX Semiconductor bahkan sempat menguat tipis. Analis Goldman Sachs memproyeksikan pendapatan raksasa teknologi seperti Amazon, Alphabet, Meta, dan Microsoft masih akan tumbuh sekitar 18% per tahun dalam dua tahun ke depan, didorong oleh investasi AI. Joseph Zappia, Co-Chief Investment Officer LVW Advisors, menambahkan bahwa fundamental pasar AS sebenarnya masih cukup sehat, dengan ekonomi yang berada dalam fase ekspansi tanpa menunjukkan tanda-tanda berlebihan.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat ini. Selain itu, laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan berorientasi konsumen seperti McDonald’s dan Walt Disney juga akan menjadi sorotan.






